Showing posts with label Life. Show all posts
Showing posts with label Life. Show all posts

Friday, August 17, 2012

Ya, Indonesia (belum) Merdeka!

Saya menulis ini, cuma sebagai salah satu Warga Negara Indonesia yang ilmunya masih cetek, nggak ngerti politik, buta hukum, dan masih banyak nggak ngerti lainnya lagi.
Tapi setidaknya saya mau mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada negara ini, yang mau menampung saya selama 21 tahun lamanya, entah ibu pertiwinya lelah terhadap tingkah laku saya selama ini, semoga saja saya termasuk anak baiknya, meskipun bukan bagian dari anak-anak yang berprestasi untuknya.

Enam puluh tujuh tahun, bukan waktu yang sebentar. Ngakunya merdeka, tapi berasa merdeka dari penjajahan secara fisik doang. Kemerdekaan yang diakuin oleh negara lain, senang karena penjajah telah dihapuskan dari muka bumi (negara ini), tapi nggak sadar, diam-diam penjajah masih ada dan melanjutkan agresi militer mereka yang ke 3, ke 4, ke 5 dan seterusnya lewat perang pemikiran, dengan cara yang lebih cerdik dan licik lagi.
Yang ngalamin ini, saya rasa juga bukan Indonesia doang. Negara lain yang masih lemah "iman" juga pasti bakalan kena ulahnya si para penjajah yang jauh lebih cerdik dan licik ini.

Kakak saya ngerti sejarah. Statement ini nggak terlalu penting sih sepertinya. Tapi karena kegilaannya kakak gue akan sejarah itulah, gue agak tercekoki.
Gue agak mulai menyukai baca-baca buku yang berbau sejarah, yang kontroversial dimana Indonesia keliatan banget dimanipulasi dan dimanfaatkan oleh kaum barat pada masa sekarang, bahkan buku sejarah yang kertasnya tua sekalipun (berhubung penasaran) sempet juga gue baca. Bahkan waktu zamannya gue masih sekolah, pas ada tugas sejarah atau mau ulangan sejarah, referensi gue mah pakainya buku sejarah punya kakak gue.
Sekali lagi statement ini nggak terlalu penting-penting amat.

Sempet gue baca bahkan, kalau atlantis itu adalah Indonesia. Telepas dari faktanya yang dipaparkan, harusnya kita ngeh dong, betapa hebatnya nih negara. Tapi kok ya, masih ada aja yang nggak bersyukur sama kondisi yang luar biasa ini. Saking nggak bersyukurnya, mau aja diperalat bangsa lain.

Tapi setidaknya saya belajar dan saya yakin orang-orang, masyarakat Indonesia seluruhnya juga udah tau (sekalipun nggak baca bener buku-buku sejarah), kalau para pahlawan berjuang mati-matian buat bikin negara Indonesia kalau para pahlawan berjuang mati-matian buat bikin negara Indonesia merdeka. Film dokumenter, atau film bioskop zaman sekarang juga udah banyak yang nayangin itu. Tapi kok ya, kayaknya masuk kuping kanan, keluar kuping kiri.

17 Agustus berasa sekedar seremonial dimana jam 10.00 waktunya pengibaran bendera, setelah itu ada lomba-lomba di RT/RW, pensi kecil-kecilan (kalo ada), sampai dangdutan. Acara-acara di TV yang banyak banget nayangin film-film bernapaskan kemerdekaan, nasionalisme, atau bentuk pengabdian apapun itu.
Nggak salah sih. Masa untuk kebahagiaan bersama, dilarang.

Tapi, udah merasa merdeka dengan begitu aja? Cuma ritual yang emang udah ada waktu tetapnya, mengheningkan cipta sejenak, terus?
Syukur-syukur kalau ada yang sadar sama kondisi negara, ada juga yang udahan gitu aja.
Ya sama juga sih kayak gue. Hahaha.
Tapi itu juga kadang-kadang kok.
#ngeles

Para narapidana yang entah udah ngelakuin kejahatan dengan niat apapun juga ikutan seneng banget kalau udah 17an. Saatnya dapat remisi, gitu kan? Pengurangan waktu negdokem di penjara, dan yes setidaknya bentar lagi gue bisa keluar..
Terutama para koruptor kelas kakap dan jago banget ngelesnya itu, yang entah punya malu atau nggak.

Rakyat yang berani menghina dan menghujat pemimpinnya (nggak hanya presiden doang). Kalau pemimpin salah, beritahukan kesalahan mereka. Apa cara terbaik hanya dengan menghina, menghujat, menyebar fitnah,  dan cara licik lainnya? Kalau memang sudah busuk semuanya, apa dengan demo, teriak sana-sini, panas-panasan doang, bisa nyelesain masalah?
Bisa sih, tapi paling nggak di dengerin.
Pemimpin sekarang kan udah masa bodo sama tingkah rakyat yang begitu. Beda sama zaman dulu, dulu juga demonya berapi-api, berisi, nggak cuma nyalahin doang. Pemimpinnya pun legowo, mau mendengarkan dan mau "sadar", setidaknya ke rakyatnya.

Ini yang namanya negara ramah? Negara yang berkepribadian dimata negara lain?
Saking ramahnya, beginilah nasibnya.

Merasa masih merdeka, disaat kebudayaan diklaim negara lain?
Merasa masih merdeka, disaat tindak kriminalitas makim terasa?
Merasa masih merdeka, disaat tingkat kemiskinan, buta huruf, kurangnya angka lulus sekolah, pengangguran merajalela ditiap sudut daerahnya?
Merasa masih merdeka ketika lebih bangga merekut atau terekrut soal lapangan pekerjaan oleh bangsa asing?
Merasa masih merdeka, ketika berpendapat benar-benar bebas sebebas-bebasnya tanpa peduli perasaan orang lain?
Merasa masih medeka, ketika rakyat tidak percaya dengan siapapun pemimpinnya?
Merasa masih merdeka, ketika bibit unggul, orang Indonesia lulusan terbaik dalam pendidikan dan keterampilannya lebih dipercaya, direbut, dan lebih memilih oleh negara asing?

Saya ngutip dari buku pidato "Indonesia Menggugat" nya Ir. Soekarno, ngambilnya sepotong-sepotong sih, yang menurut saya ngena banget (buat saya sih)..

Saudara-saudara, soalnya adalah demikian: kita ini berani merdeka atau tidak?? Inilah, saudara-saudara sekalian, Paduka tuan ketua yang mulia, ukuran saya yang terlebih dulu saya kemukakan sebelum saya bicarakan hal-hal yang mengenai dasarnya satu negara yang merdeka. Saya mendengar uraian P.T. Soetardjo beberapa hari yang lalu, tatkala menjawab apakah yang dinamakan merdeka, beliau mengatakan: kalau tiap-tiap orang di dalam hatinya telah merdeka, itulah kemerdekaan. Saudara-saudara, jika tiap-tiap orang Indonesia yang 70 milyun ini lebih dulu harus merdeka di dalam hatinya, sebelum kita dapat mencapai political independence, saya ulangi lagi, sampai lebur kiamat kita belum dapat Indonesia merdeka!

(Tepuk tangan riuh).

Di dalam Indonesia merdeka itulah kita memerdekakakan rakyat kita!! Di dalam Indonesia Merdeka itulah kita memerdekakan hatinya bangsa kita! Di dalam Saudi Arabia Merdeka, Ibn Saud memerdekakan rakyat Arabia satu persatu. Di dalam Soviet-Rusia Merdeka Stalin memerdeka-kan hati bangsa Soviet-Rusia satu persatu.

Saudara-saudara! Sebagai juga salah seorang pembicara berkata: kita bangsa Indonesia tidak sehat badan, banyak penyakit malaria, banyak dysenterie, banyak penyakit hongerudeem, banyak ini banyak itu. “Sehatkan dulu bangsa kita, baru kemudian merdeka”.

Saya berkata, kalau inipun harus diselesaikan lebih dulu, 20 tahun lagi kita belum merdeka. Di dalam Indonesia Merdeka itulah kita menyehatkan rakyat kita, walaupun misalnya tidak dengan kinine, tetapi kita kerahkan segenap masyarakat kita untuk menghilangkan penyakit malaria dengan menanam ketepeng kerbau. Di dalam Indonesia Merdeka kita melatih pemuda kita agar supaya menjadi kuat, di dalam Indonesia Merdeka kita menyehatkan rakyat sebaik-baiknya. Inilah maksud saya dengan perkataan “jembatan”. Di seberang jembatan, jembatan emas, inilah, baru kita leluasa menyusun masyarakat Indonesia merdeka yang gagah, kuat, sehat, kekal dan abadi.


***

Mendirikan negara Indonesia merdeka yang namanya saja Indonesia Merdeka, tetapi sebenarnya hanya untuk mengagungkan satu orang, untuk memberi kekuasaan kepada satu golongan yang kaya, untuk memberi kekuasaan pada satu golongan bangsawan?

Apakah maksud kita begitu? Sudah tentu tidak! Baik saudara-saudara yang bernama kaum kebangsaan yang disini, maupun saudara-saudara yang dinamakan kaum Islam, semuanya telah mufakat, bahwa bukan yang demikian itulah kita punya tujuan. Kita hendak mendirikan suatu negara “semua buat semua”. Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan, maupun golongan yang kaya, – tetapi “semua buat semua”. Inilah salah satu dasar pikiran yang nanti akan saya kupas lagi. Maka, yang selalu mendengung di dalam saya punya jiwa, bukan saja di dalam beberapa hari di dalam sidang Dokurutu Zyunbi Tyoosakai ini, akan tetapi sejak tahun 1918, 25 tahun yang lebih, ialah: Dasar pertama, yang baik dijadikan dasar buat negara Indonesia, ialah dasar kebangsaan.


***

Kalau para pejuang Indonesia zaman dulu, Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Ki Hajar Dewantara, AH. Nasution, dan mereka-mereka yang sangat patriotik berjuang memerdekakan Indonesia sampai ke akar-akarnya melihat kondisi negara ini saat ini, mereka pasti sedih luar biasa.

Ya, kakak gue (entah pernah ngutip dari perkataan orang lain atau nggak, gue lupa), pernah bilang, "Sejarah dibuat oleh para pemenang dan hanya untuk para pemenang." Makanya nggak jarang sejarah yang ada udah banyak yang dimanipulasi, diubah alur ceritanya, sesuai kehendak si pemenang dan orang-orang dibelakangnya.

Ini sebagai refleksi aja, refleksi enam puluh tujuh tahun, untuk saya pribadi dan untuk rakyat Indonesia dimanapun anda berada.

Kalau dulu semboyannya, "Merdeka atau Mati!" bolehkah saya tambahkan sedikit untuk semangat para pemuda dan rakyat Indonesia saat ini?
"Merdeka atau Mati Diperalat!"

"...Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia" '(Q.S Ar-Ra'd)



Happy Independence Day, Indonesia! Hope be better for you! 

Friday, July 27, 2012

Iseng untuk Kalian, Wahai Para Pengubah Dunia!

Ketagihan mengajar.

Jujur itu hal yang saya rasakan setelah sekian lama berkutat dengan yang namanya anak-anak waktu kegiatan SOUL (Solidarity of Our Children) dari BEM waktu itu. Anak-anak kecil polos yang rasa ingin tahunya sangat luar biasa dan semangatnya juga luar biasa. Mungkin sederhana, nggak dikasih duit, nggak dikasih apa-apa dari hasil mengajar. Tapi ada satu hadiah luar biasa setiap kali mengajar mereka.

Mereka mengerti.

Buat saya, itu sudah cukup, meskipun belum memahami. Mungkin, dibandingkan dengan kita yang bisa sekolah dengan nyamannya, sekolah yang bagus fasilitasnya, guru-gurunya, atau sekolah yang dianggap unggulan di kota masing-masing, sekolah mereka jauh nggak ada apa-apanya.

Jangankan sekolah, di sekitar kampus yang katanya termasuk 10 Perguruan Tinggi Negeri terfavorit dan Terunggul di Indonesia masih banyak anak-anak yang belum punya kesempatan buat sekolah. Yaaa, mungkin buat kalian yang saat ini bisa mengenyam pendidikan, hal itu terkesan biasa aja. 
Dan saya yakin, tidak hanya di daerah sekitar kampus saya, yang lain pun saya rasa masih ada hal seperti ini. Tapi pernahkah berpikir bahwa dampak pendidikan itu besar banget buat pembangunan suatu negara?

Ah, saya nggak mau banyak berteori.

Yang saya ingin bagikan dengan kalian, bahwa mereka senang lho ketika ada "orang" yang mereka anggap "Pintar" mau mengajar mereka. Mereka semangat dan mungkin yang ada di benak mereka, "Hari ini belajar apa ya?".

Saya mengutip dari cerita seseorang, waktu itu dia mencoba mengajar di salah satu daerah yang pendidikannya masih kurang dan rawan banjir. Waktu itu dia sedang mengajar dan ternyata tanpa sadar, kelas tempat dia mengajar mulai digenangi air. Langsung saja dia menutup pintu untuk menghalau aliran air dengan menumpukkan batu bata di pintu masuk kelas. Dia mengambil keputusan, lebih baik belajarnya ditunda dulu karena kondisi kelas yang sudah tidak memungkinkan (banjir sudah hampir setara dengan kursi). Tapi murid-muridnya cuma bilang, " Nggak, kak. Kita mau belajar aja. Lagi juga kalau pulang kan lagi banjir."

Mereka semangat. Mengalahkan semangat yang mengajar.

Belum ditambah ketika waktunya tiba untuk mengajar murid yang lain, dia berpikir kalau murid itu tidak akan datang. Toh, kondisi diluar banjir dan pastinya membuat orang-orang malas untuk ke sekolah sekedar belajar tambahan. Tapi gak lama kemudian,

"Kakak, ayo belajar. Aku masuk yaaa.."
"Rajin sekali kamu datang ke sekolah. Kamu sendirian?"
"Iya, teman-teman yang lain malah asyik berenang disana. Tapi aku mau belajar saja, aku penasaran kakak mau ngajar apa hari ini."

Lebih dari cukup. Semangat untuk hadir saja itu lebih dari cukup.
Dan semangat seperti inilah yang dibutuhkan negara. Mereka nggak peduli dengan apapun yang terjadi, bagi mereka "keinginan" dan "kerinduan" buat belajar lebih dari hal-hal yang tak perlu dipikirkan seperti itu.

Ingat juga ketika anak-anak di sekolah waktu mengajar Bahasa Inggris bersorak luar biasa menyambut kedatangan mahasiswa-mahasiswa yang mereka anggap "lebih pintar" dibanding mereka. Mereka bahagia,nggak ada rasa mengeluh datang siang-siang hanya untuk sekedar belajar bahasa Inggris yang juga "standar". Tapi mereka menikmatinya. Itulah mengapa masih banyak anak-anak yang semangat sekolah.

Guru di sekolah itu pun terbatas cuma beberapa saja dan itu bisa dihitung pakai jari. Kelasnya pun juga cuma kelas 3, 4, 5, dan 6. Kenapa bisa begitu? Mana kelas 1 dan 2 nya?

Dan lebih menyedihkannya lagi. Saya sedih dengan standar nilai kelulusan yang ditetapkan di sekolah. Mereka menstandarkan nilai kelulusan sebagai berikut.
Matematika = 3,5
Bahasa Indonesia = 4
Bahasa Inggris =3,5
Agama = 5

Apa yang mau dihasilkan dengan tingkat kelulusan yang seperti itu? Agama hanya diberi nilai kelulusan dengan angka 5 saja sudah cukup kah? Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris dengan nilai itu sudah berarti kah?

Mereka nakal-nakal. Itu karena lingkungan yang menimpanya.
Mereka terkadang nggak sopan. Itu karena pendidikan mereka pun terbatas.
Mereka terkadang usil, menyebalkan, dan sebagainya. Tapi dibalik itu semua, mereka punya harapan seperti kita. Bisa sekolah, baca, nulis, berhitung, tapi apa daya kemampuan finansial yang meghalang mereka untuk memenuhinya.

Saya juga ingat ketika waktu lagi mengajar, ada anak kecil di depan pintu. Saya bertanya, "Kok kamu nggak ikutan belajar di dalam kelas? Ayo masuk! Tuh teman-temannya pada belajar."
Dia cuma geleng-geleng kepala, "Nggak kak. Aku kan nggak sekolah..."

Kasihan kah yang ada dipikiran saya pertama kalinya? Nggak. Tapi yang ada di pikiran saya pertama kalinya cuma MIRIS. Ya! Miris. Lagi-lagi didaerah dengan Perguruan Tinggi yang luar biasa hebatnya, tapi ternyata masyarakat disekitarnya buat sekolah saja ada yang nggak mampu. Tertimpang banget kondisinya. Mungkin ada berbagai faktor yang membuat hal-hal seperti itu terjadi. Ya, saya pun sadar akan hal itu.

Tapi tahukah bahwa diluar sana masih banyak anak-anak yang butuh ilmu, tapi pengabdian masyarakat bagi yang katanya "orang berilmu" itulah yang masih kurang. Saya yakin, yakin sekali banyak lulusan universitas terkenal di negara ini, tapi pernahkah sedikit saja melihat bahwa masih ada "adik-adik" kalian dengan nasib yang seperti ini?

Sekali lagi benar kata salah satu dosen saya,
Orang yang pintar itu banyak, yang aktif organisasi, yang pintar berorasi itu banyak. Tapi orang yang peka pada sekitarnya, masih sangat jarang dimiliki di negara ini.

Saya juga merasakan suatu hal yang sangat luar biasa dan nggak bisa di ungkapkan dengan kata-kata ketika anak-anak yang belajar dengan kami (saya dan teman-teman saya) berterima kasih atas semua pelajaran yang diajarkan kepada mereka. Mereka mengucapkan terima kasih, atas apa yang sudah kami ajarkan, meskipun hanya pelajaran Bahasa Inggris standar yang sudah seharusnya bisa dipelajari di kelas 1 SD.

Mereka tulus mengatakannya. Mereka tulus mengucapkan kata-kata "terima kasih" dan dengan terpaksa saya mengeluarkan air mata. Dan lagi-lagi itu yang membuat saya berpikiran bahwa,
Diluar sana masih banyak yang butuh kita.
Jangan pernah anggap diri kita nggak berguna.

Ya, saya rasa, mengajar bukan hanya tugas seorang guru, tapi tugas semua umat manusia di dunia.

***

Ketagihan mengajar.
Saya suka dengan quotes berikut ini, sederhana tapi sangat punya makna.
"Aku menyentuh masa depan. Aku mengajar" (Christa Mc Auliffe)
dan
"Kita tidak selalu bisa membangun masa depan bagi generasi muda. Tapi kita bisa membangun generasi muda untuk masa depan" (Franklin D Roosevelt)

Ya, kita bisa membantu mereka, mengajak mereka untuk "bisa" seperti orang-orang yang mereka anggap "hebat" ini, membangun karakter dan kemampuan yang memang mereka miliki. Tidak hanya untuk dirinya saja, tapi juga untuk kemajuan Indonesia.

Semoga suatu saat nanti saya bisa buat sekolah untuk anak-anak yang kurang mampu dan membuat sebuah Indonesian Kids Fund untuk membiayai pendidikan anak-anak kurang mampu di negara ini.

***

Sunday, July 8, 2012

Hari Ini Saya Berumur 21 Tahun..

Hari ini, bukan hari yang luar biasa buat orang-orang. Bukan seperti hari raya, dimana semua masyarakat penjuru menunggu hari ini, mempersiapkan sebaik mungkin untuk hari tersebut, dan menikmatinya luar biasa pada saat waktunya tiba.

Bukan hari kemerdekaan, semuanya bisa menikmati liburan. Dikenang semua orang, dan mereka rela memberikan doa meskipun sesingkat-singkatnya (Setidaknya hanya mengheningkan cipta saja itu sudah sangat berarti buat negara), tidak semua penjuru se Indonesia menyanyikan lagu seperti lagu kemerdekaan yang berkumandang sahut menyahut seharian penuh.

Tapi biar begitu, hari ini berarti sangat buat saya. Berarti karena saya begitu menunggunya, berarti karena saya mengharapkan hari ini akan segera tiba, berdoa semoga segala kebahagiaan dan keberuntungan lain terus mengalir pada hidup saya dimulai dari hari ini.

Karena saya mulai dipercaya Tuhan untuk hidup dan merasakan dunia pada tanggal ini.

21 tahun bukan waktu yang singkat untuk melatih diri ini menjadi lebih dewasa dan mampu dianggap dewasa oleh orang lain. 21 tahun juga bukan waktu yang mudah untuk membentuk sikap ini menjadi lebih berakhlak mulia, segala kebaikan dipertambah dan keburukan dalam diri saya. 21 tahun bukan waktu yang sulit untuk dipahami dan 21 tahun ini bukan waktu yang lama untuk merasakan berbagai kejadian dan pengalaman silih berganti muncul dalam kehidupan dan memberikan makna tersendiri untuk diri saya.

Karena saya, memiliki orang-orang yang luar biasa di sekeliling saya.


Orang-orang yang selalu menyemangati saya dikala saya merasa terjatuh.
Orang-orang yang selalu membuat saya tersenyum, meskipun singkat, dikala hati saya kacau.
Orang-orang yang selalu mengingatkan saya ketika saya terlupa.
Orang-orang yang selalu "membangunkan" agar saya "terjaga" dari mimpi-mimpi saya.
Orang-orang yang selalu menyisipkan nama saya, dalam doa-doa kebaikannya.

Itulah mengapa saya menganggap 21 tahun bukan waktu yang sia-sia. Saya tak akan pernah menyangkalnya, tak akan menyesalinya bahwa umur saya semakin bertambah.

Karena itu bukan pilihan, itu takdirNya, dan saya, mau tak mau harus menerimanya.

21 tahun juga saya belajar banyak. Saya tak akan pernah lupa, selama itu banyak ilmu luar biasa yang bisa saya peroleh hingga waktu membentuk saya seperti ini.

Dalam tahun-tahun itu saya belajar banyak hal yang saya tak akan pernah mau menukarnya dengan perhiasan apapun.
Saya belajar merasakan ketika umur saya masih dibawagh satu tahun.
Saya belajar bagaimana saya menikmati pelukan kedua orang tua saya yang paling ternikmat dalam selama hidup saya ketika saya masih kecil.
Saya belajar merangkak, menggenggam benda apapun yang mampu saya genggam.
Saya belajar melihat apa yang bisa saya lihat.
Saya belajar dan mencoba mengucapkan sepatah kata, meskipun itu hanya ucapan kata "mama" atau "papa".
Bertambah sedikit umur ini, saya belajar berjalan. Tertatih-tatih, tapi saya mampu melewatinya hingga saya bisa berjalan bahkan hingga berlari dengan mulusnya saat ini.
Saya meminta belajar sepeda pada orang tua saya. Sulit, tapi setidaknya saya mampu menjalankannya sekarang meski tidak seprofesional atlit olahragawan sepeda.
Saya meminta diajarkan membaca, hitung-menghitung, bertanya banyak hal yang tidak saya ketahui, bahkan menuntut diri saya untuk meminta orang tua menyekolahkan saya dengan menambahkan tangisan yang menjadi-jadi.
Saya belajar mengenal orang lain. Saya belajar berteman dengan orang lain.

Tapi ketika itu pula, saat saya terhubung dengan orang lain, saya juga belajar hal-hal lain.
Saya belajar berbohong dalam bentuk apapun.
Saya belajar egois ke orang lain.
Saya belajar bahwa semua bisa terselesaikan dengan tangisan.
Meskipun saya tahu, orang tua saya amat sangat tidak mengajari saya akan hal itu dan tidak mengharapkan anaknya seperti itu.
Tapi begitulah waktu. Kembali saya belajar banyak.

Dalam waktu selama dua puluh satu tahun itu, saya bertemu teman-teman saya yang lainnya. Saya bisa merasakan rasa setia, kebersamaan, kenakalan bocah-bocah, hingga sakit hati karena pertemanan.
Saya belajar berbagai ilmu yang bahkan dulu saya tak mengerti. Dulu hanya mengerti tambah-kali-kurang-bagi, membaca sepatah-patah, tapi kini saya tahu apa itu matematika yang sesungguhnya, Bahasa Inggris, IPS, IPA, Kesenian...
Dan lambat laun saya mencoba mempelajari diri saya, apa yang saya suka dan apa yang saya tidak suka.

Saya suka musik.
Saya suka membaca.
Saya suka membuat kerajinan tangan.
Atau bahkan saya suka jalan-jalan bersama sahabat-sahabat saya.
Tapi saat itu juga saya mulai belajar menetang.
Menentang terhadap apapun yang tidak saya sukai, masa bodoh dengan pikiran orang lain.
Saya belajar mengatakan "tidak mau".
Saya belajar mengatakan "saya tidak suka".
Tanpa disadari ternyata sikap itu berkorelasi dengan munculnya sikap menuntut dalam diri saya.

Semakin bertambahnya usia, saya mencoba belajar dari hal-hal kecil dan mencoba mengubahnya.
Saya mencoba memahami makna kehati-hatian.
Mana orang yang saya pandang baik, mana orang yang saya pandang jahat.
Mencoba menjadi anak yang mau membahagiakan orang tuanya dengan prestasi-prestasi kebaikan apapun bentuknya.
Mengurangi kenakalan.
Dan mengetahui apa namanya cinta.
Meski belum seserius kenyataannya.

Ketika saya dinyatakan remaja, saya mulai memhami bahwa dosa-dosa saya tidak lagi ditanggung orang tua saya. Saya mencoba melatih diri saya shalat memenuhi 5 waktu meski masih sangat terundur sekali waktunya.
Mencoba melatih baca Al-Qur'an meski terbata-bata.
Tapi kenakalan remaja tetap tidak bisa dihindari. Itu alamiah muncul dalam tiap remaja, siapapun itu.
Teman-teman saya mengajarkan saya bolos sekolah.
Mengajarkan saya menggunakan uang sekolah untuk jajan.
Mengajarkan saya untuk hal-hal yang tidak baik.
Tapi ego saya masih mengingat, pada orang-orang baik disekeliling saya. Pastinya mereka tak akan pernah mengharapkan saya menjadi "anak nakal" yang mereka miliki dan mereka temui.
Satu hal baru lagi, saya belajar memiliki "impian".

Seiring berjalannya waktu, banyak pengorbanan pula yang saya harus lakukan untuk segala mimpi-mimpi saya.

Saya harus belajar semaksimal mungkin supaya lulus UN.
Saya harus belajar semaksimal mungkin supaya bisa diterima universitas.
Setidaknya saya yakin, biarlah saya bersusah payah karena kebahagiaan nantinya juga bukan hanya untuk saya. Tapi untuk orang-orang baik disekeliling saya, terkhususkan orang tua saya.
Lagi-lagi orang tua.

Terus..terus..dan terus..

Dua puluh satu tahun bukan waktu yang singkat apabila saya kembali menceritakan nya pada kalian. Meskipun sangat singkat untuk saya rasakan.
Seperti saat ini, rasanya kemarin saya masih digendong ibu saya kemana-mana, baru bisa belajar berjalan, baru masuk sekolah SD, SM, SMA...

Tapi sekarang, saya seorang mahasiswa.
Dengan mimpi-mimpi saya.

Yang akan terus mengalir, terus saya catat dalam memori saya, terus saya coret apabila mimpi saya sudah saya dapatkan...

Dua puluh satu tahun bukan waktu yang biasa-biasa saja. Bukan waktu yang bisa aya anggap percuma.
Dua puluh satu tahun bukan gerbang ketika saya merasakan "umur saya sudah kepala dua".
Karena menjadi tua itu tuntutan hidup.
Tapi menjadi bijaksana dalam hidup itu adalah pilihan.
Dan saya memilih mencoba menjalani hidup dengan bijaksana.

Menyelesaikan kuliah, memperoleh pekerjaan yang diinginkan, membahagiakan orang tua dengan semaksimal apa yang saya punya..

Dua puluh satu tahun, ketika mimpi-mimpi yang lebih luar biasa untuk hidup saya bermula dari sini.
Dua puluh satu tahun, ketika saya masih percaya Tuhan berikan saya waktu yang "lebih" untuk terus mengeruk emas pahala sebanyak-banyaknya di dunia.
Dua puluh satu tahun, ketika saya semakin sadar, bahwa akan selalu ada orang-orang baik dan bijaksana dalam hidup saya..

***

Hari ini saya berumur 21 tahun.
Dan saya menikmatinya.. :)

***

Tuesday, May 15, 2012

Nederland is zo uniek!

Berbicara tentang negara Belanda, pastinya tidak bisa terlepas dari bagaimana tradisi dan kebiasaan dari masyarakatnya. Sebagian besar tradisi dan kebiasaan yang berkembang dan dilakukan oleh masyarakat Belanda tergolong unik-unik dan menarik untuk diketahui. Yuk, cek sama-sama..

1. Orang Belanda sangat menyukai sepeda
Sebenarnya saya sangat setuju dengan kebiasaan orang Belanda yang ini. Selain menyehatkan karena sekaligus berolahraga, dengan bersepeda juga bisa menghindari bumi dari global warming. Menurut data, sepeda merupakan transportasi nomor satu di Belanda. Masyarakat disana bahkan suka sekali membeli aksesoris untuk sepedanya supaya terlihat lengkap, tidak kalah dengan kendaraan lainnya. Dan ternyata, bahkan kalau membeli sepeda bekas saja, kita akan ditawari asuransi sepeda!

Parkiran sepeda di Belanda

2. Ini dia...Terlampau Hemat
Karena sikapnya orang Belanda yang terlalu hemat, banyak yang menyangka kalau sikapnya ini tergolong "pelit". Padahal, hal ini dikarenakan orang Belanda pernah mengalami kondisi yang sangat susah dan menyebabkan mereka melakukan inspansi ke beberapa negara supaya membuat mereka menjadi kaya. Sekalipun Belanda kini telah menjadi negara yang tergolong maju, kebiasaan ini tetap tidak hilang dari masyarakatnya.

3. Cultural Event dan Parade-parade unik
Kalau hal yang satu ini, banyak sekali disajikan di negeri Kincir Angin ini. Dari Summer Carnaval yang memang dirayakan saat musim panas, Pasar Keju di Alkmaar, Landgroof Pinkpop Festival yang merupakan festival musik dengan panggung terbuka paling terkenal di Belanda, Hari Ulang Tahun Ratu yang sekaligus menjadi hari nasional di tiap tanggal 30 April, bahkan sampai Gay Parade buat para gay di Belanda juga ada!

Parade Keju di Alkmaar

Summer Carnaval

4. Diskon Besar-besaran
Ternyata ada waktu khusus dimana kita bisa berbelanja barang apapun yang bermerek. Ada musimnya disini. Musim sale, dimana ada diskon besar-besaran yang biasanya terjadi dua kali dalam setahun, antara bulan Januari dan Juli. Pada saat itu, harga-harga benar-benar turun dan menjadi murah untuk dibeli.

5. Diundang Belum Tentu Ditraktir
Kebiasaan yang sangat berbeda dengan masyarakat Indonesia. Baik itu dalam situasi undangan rapat, kumpul biasa, bahkan ulang tahun, jangan pernah menganggap sepenuhnya kalau undangan itu merupakan waktunya kita bisa ditraktir. Kalau tidak siap mengeluarkan uang, lebih baik menolak undangan tersebut.

6. Sangat tepat waktu
Di Belanda, waktu itu sangat-sangat diperhatikan. Bagi masyarakat disana, terlambat dianggap sebagai salah satu hal yang tidak sopan.

7. Tidak menyukai hal-hal yang berlebihan dan orang-orang yang membanggakan diri
Orang Belanda sangat tidak menyukai dengan berbagai hal kesombongan dari orang lain. Dan lebih baik ketika kita mendapatkan atau memiliki "sesuatu" yang lebih dibandingkan orang Belanda, tetaplah bersikap sewajarnya dan tidak membangga-banggakan diri di depan mereka.

8. Tradisi hadiah Pernikahan
Orang Belanda lebih sering memberikan hadiah pernikahan untuk kerabatnya berupa tempat garam dan merica, biasa disebut "zout en peper stelletje". Alasannya karena garam dan merica dianggap sering dipakai sebagai bumbu masak dan saling melengkapi satu sama lain bahkan dipakai bersamaan. Dan karena alasan inilah, garam dan merica dianggap melambangkan orang-orang yang menikah sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.



Masih banyak tradisi dan kebiasaan masyarakat Belanda yang unik-unik dan pastinya dengan mengetahui dan mempelajarinya membuat siapapun penasaran dan sangat ingin untuk berkunjung kesana.

Nederland is zo uniek!!! :)

Tuesday, March 20, 2012

Pelajaran Hari Ini Tentang Organisasi

Hati-hati berbicara, kerna jika tidak hati-hati bisa salah persepsi..

Bener. Bener banget. Dan alhamdulillah hari ini gue belajar banyak mengenai "kondisi diluar" seperti apa. Mungkin beberapa hari ini betul-betul hari yang membutuhkan pemikiran keras, emosi ga terkontrol, dan kalau ga kuat yaaa nyerah.

Sayangnya, gue bukan seperti itu dan akan mau seperti itu.

Berdasarkan dari apa yang gue alami akhir-akhir ini mengenai organisasi, nggak tahu kenapa tangan gue gatel banget buat nulis unek-unek gue. Lagi-lagi gue nggak mau berteori. Ini "pure" banget buat belajar bersama, diterima ataupun ga, silahkan.

No judge for someone, groups, team, and everything. Just, "c'mon, we learn together about this!"

Organisasi itu ga sekedar teori dari para ahli aja, tapi ada hal-hal penting yang "sebaiknya" kita lirik.

1.
Gue setuju, sangat setuju banget dengan kata-kata dosen gue. Beliau pernah bilang "Buku-buku tentang kepemimpinan sampai sekarang masih dicari, masih dipelajari oleh orang-orang. Tapi kenyataannya, memang menjadi seorang pemimpin bukan hal yang mudah bagi setiap orang. Tetapi, jika dia berhasil menjadi pemimpin, dia akan dikenang, bahkan sepanjang masa"

Ya, jadi pemimpin itu ga mudah. Dimana seorang pemimpin harus MAU mendengar bawahannya, MAU bersikap demokratis memberikan kesempatan bagi bawahannya berpendapat dan mencoba mem-mix-kan menjadi suatu keputusan bersama, BERANI mengambil resiko dari setiap keputusan yang ditetapkan ASAL tetap perhatikan tujuan dan feedback untuk bawahannya (jangan bawahannya kena sial dari keputusan dia), RELA memberikan waktunya hanya sekedar tahu masalah organisasinya, BUKAN yang selalu menganggap dia yang paling benar sehingga menyalahkan orang lain dan mencoba mencari cara buat menutupi kesalahannya tapi justru mau belajar dari kesalahannya itu.

Tau kan sifat Rasulullah? Sidiq (Benar), Fathonah (Cerdas), Tabligh (Menyampaikan), dan Amanah (dapat dipercaya).
Tidak akan ada yang bisa mengalahkan pemimpin terhebat sekaliber Nabi Muhammad SAW, tapi boleh dong kalau berpanutan sama beliau? Bahkan disarankan malah.

2.
Kata dosen gue lagi nih. Ada Filosofi kodok/katak. Dimana seekor katak dicemplungin ke panci berisi air panas dan akibatnya? Si katak loncat dong. Tapi coba kalo si katak ditaro dulu di panci dengan isi air dingin, kan dia ga kaget tuh, malah seneng bisa main-main air dulu, lama-lama baru dihangatkan airnya, hingga akhirnya si katak ga sadar kalau dia lagi "dimasak".

Intinya gini. Budaya organisasi ga akan bisa diubah dengan cara "perubahan keseluruhan dan mendadak", yang ada malah menimbulkan ketidaknyamanan sama pengurus atau anggotanya dan akibatnya? Tahu lah yaaa..
Yang seharusnya dilakukan itu, lakukanlah perubahan budaya sedikit demi sedikit. Perlahan-lahan tapi pasti. Supaya semua ga secara langsung merasakan perubahan secara drastis dari biasanya. Ada lho orang yang rentan sama perubahan drastis dan itu biasanya berdampak (dalam organisasi) sama kinerjanya dia.

3.
Lagi-lagi kata dosen gue, Ada 4 tipe pemimpin dan bawahan. Nih urutannya.
1. Pemimpin yang semangat, bawahan juga semangat
2. Pemimpin yang semangat, bawahan ga semangat
3. Pemimpin ga semangat, bawahan semangat
4. Pemimpin ga semangat, bawahan juga ga semangat.

Maksudnya? Iya, kalau pemimpinnya semangat buat menciptakan hal-hal untuk mencapai visi misi si organisasi ditambah bawahannya juga semangat, pasti kerja bakalan cepat dan kemungkinan berhasil lebih besar. Toh kedua-duanya semangat. Kalaupun gagal, sedihnya nggak berlebihan. Yaaa lagi-lagi karena ngerjainnya bareng-bareng.

Terus kenapa poin kedua kayak gitu? Pemimpin megang peranan penting banget di organisasi. Kalau bawahannya ga semangat tapi ketuanya semangat, setidaknya akan punya kesempatan kegiatan bisa cepat terselesaikan karena keputusan yang menetukan kan pemimpin. Tapi coba kalo pemimpinnya yang nggak semangat tapi bawahannya semangat? Dikala bawahannya udah semangat banget merancang suatu hal dan yakin ini bagus banget buat visi misi organisasi itu sendiri, tapi si pemimpin ga semangat bahkan apatis. Ya udah, ke laut aja lo.

Apalagi yang terakhir. Satu kata dari gue,"DIE".

4.
Sebenernya sih kata-katanya gini.
Kesuksesan perusahaan ditentukan dari 4 hal :
1. Knowledge
2. Ability
3. Attitude
4. Aptitude
Tapi menurut gue, ini ga mesti buat perusahaan aja ah. Buat mencapai kesuksesan, setiap orang harusnya punya keempat hal ini.
Orang pinter aja ga cukup tanpa ketiga hal yang dibawahnya. Tapi dia juga harus punya keterampilan lain, mampu bersikap dan bertindak yang baik terhadap orang lain, bahkan memiliki kepekaan tersendiri buat orang lain.
Itulah mengapa banyak orang Indonesia pinter-pinter tapi tingkahnya kacau. Merasa paling oke dan memandang rendah orang lain. Begitu juga dengan organisasi, sepinter apapun kita tapi ketika bersosialisasi sama orang, ga ada salahnya dan ga merugikan diri sendiri juga kan dengan bersikap sopan?

5.
Agak mirip di atas, kata dosen gue lagi nih,
"Orang pinter itu di Indonesia banyak, yang aktif, pinter berorasi banyak sekali. Tapi untuk yang peka sama sekitarnya. Jarang."

Iya juga sih bu. Rasa peka satu sama lain dari masyarakat kita kurang. Dan ga terkecuali di organisasi. Terkadang sibuk aja sama divisinya sendiri. Atau sibuk aja sama "kewajiban" perorangan masing-masing. Ga peduli dengan divisi lain, ga peduli dengan kondisi di luar sana, dsb. Dan bener juga, sudah seharusnya tradisi kayak gini dimusnahkan.

6.
Di organisasi yang lebih penting adalah bagaimana menciptakan kenyamanan bagi pengurus+anggotanya do organisasi itu dibandingkan harus menghukum satu sama lain.

Ngerti lah ya maksudnya apa? Haha..

7.
"Ada 2 pilihan utama dalam kehidupan, yaitu menerima kondisi apa adanya atau menerima tanggung jawab untuk mengubah kondisi tersebut"

Kalau ada kesalahan, organisasi yang bijak, pemimpin yang bijak, pengurus yang bijak pasti pilih pilihan yang kedua. Seberat apapun kesalahan yang dilakuin, yaa harus tanggung jawab. Kalau kata orang nih ya, enak ga enak yaa emang ga enak. Salah tuh kalau ada yang bilang, enak nggak enak yaaa enak-enakin.

8.
Lakukanlah semua kewajiban dari organisasi bukan karena TAKUT tapi karena sadar bahwa ini ORGANISASI saya dan saya harus MENDUKUNG sepenuhnya.

Bener deh, tingkah yang kayak gini nih ya nggak banget. Kalau (lagi-lagi) kata dosen gue justru hal karena TAKUT itu yang menyebabkan orang bekerja dibawah standar. Tapi coba kalau dari masing-masing introspeksi diri, kita mau organisasi buat apa sih? Plis, masuk organisasi juga bukan buat nge-babu juga kali yaa. Atau ikut organisasi bukan buat SIAP menerima hukuman setiap saat. Tapi sadar kalau ikut organisasi yaa menjalankan visi-misi dan mendukung setiap kegiatan yang berkaitan dengan visi-misi tersebut.

Masih banyak sih ya.. sementara segini dulu. Sudah malam dan besok gue harus kuliah pagi-pagi layaknya anak sekolahan. Jadi..

Terakhir dari gue,

"Saya sering salah. Tetapi saya hanya bersedih sebentar, karena kesalahan adalah tanda bahwa saya bisa segera benar. Setelah itu saya menjadi tegar kembali dan bersyukur karena menjadi pribadi yang lebih kuat dan sigap bagi kemungkinan salah berikutnya" (Mario Teguh)

Ya, siapapun dia, gue, lo, kalian, ibu-bapak, dosen, para ahli pasti punya salah. Ga ada yang kagak punya salah, tapi bagaimana caranya supaya kesalahan itu jadi pembelajaran dan berusaha untuk tidak melakukan kesalahan yang sama dan siap untuk kemungkinan salah yang lainnya.

Night! :)






Tuesday, March 6, 2012

TEAM atauuuu ???

Ga tau deh, apa ini karena pengaruh gue pernah kuliah dengan mata kuliah Perilaku Organisasi atau emang gue lagi "sadar" aja pemikirannya.

Intinya gini, organisasi yang baik itu adalah menerapkan kerja tim,bukan kerja kelompok.

Sepintas, emang beda sih antara kata "kerja tim" dengan "kerja kelompok".
Beda banget malah.

Cuma itu kan baru sepintas aja, ga tau kan maksudnya apa?

*berasa gue tau aja*

Nggak, nggak. Gue ga mau berteori. Berteori itu cukup buat Bapak Dessler, Gary Amstrong, Schiffman dan Kanuk, Mankiw, Stephen Robbins, dan Bapak-Bapak hebat lainnya itu.
*thanks buat kalian semua, berkat kalian aku bisa jadi mahasiswi berprestasi dengan nilai nggak berprestasi sama sekali*

Tapi gue suka "menganggap" penting dari kata-kata Pak Stephen Robbins itu.
*Nggak tau juga sih itu kata-kata si Stephen Robbins atau siapa, tapi yang pasti buku Perilaku Organisasi gue pengarangnya beliau"*

#payee luu#

Bener banget kalo semua organisasi, ga cuma sekedar organisasi skala kecil macem OSIS, BEM, bahkan ROHIS sekalipun; skala menengah seperti LSM, dan lainnya; hingga skala besar seperti DPR dan konco-konco nya  harus bekerja secara tim sepenuhnya.
*jadul banget ya bahasa gue? Konco..HAHA*

Yup, sebenarnya inilah jeleknya organisasi zaman sekarang, terutama di Indonesia. Teori mereka pada bener, maksudnya mereka pinter dan tahu kalau yang namanya organisasi tuh harus mencapai visi misi dan nanana lainnya. Mereka juga tahu, yang namanya ikut organisasi yaa harus punya komitmen yang besar, komitmen yang tinggi, dan nananana lainnya juga.

Tapi cuma sampai segitu.

Mereka selalu mengandalkan kata-kata "Kerja Bareng-bareng karena organisasi ini yang menentukan sukses atau nggak nya yaa kita". Mereka juga berkoar-koar akan "Pentingnya kebersamaan dalam menyukseskan setiap program kerja, blahblahblahnananana". Dan masih banyak lagi.

Yeah, itu betul. Banget malah.
Tapi... pemikiran mereka masih sebatas itu.

#gaya luuu..kayak tau aja#

Sebenernya sih gue juga nggak tau. Kan gue udah bilang, gue mahasiswi berprestasi tapi nilai gue nggak ada prestasi-prestasinya sama sekali.
Bentar..bentar, kayaknya gue nulis ini, jatohnya kayak "berteori" ya?

#zzzzzzzzzzttttttttttt#

Nggak, gue cuma mau berbagi "pemikiran" doang kok.

Begini, menurut gue, emang bener yang namanya suatu organisasi itu harus berpatokan sama visi misi yang udah direncanakan di kepengurusan itu dan melaksanakan program kerja yang mendukung visi misi tersebut. Tapi, hanya sekedar kerja bareng itu, nggak jelas.

Kerja bareng bukan kata yang pas buat suatu organisasi.

Bener kata Pak Stephen Robbins, organisasi itu kerja tim bukan kerja kelompok. Kalau kerja kelompok hanya sekedar ngerjain tugas, kewajiban dan.. udah.
Goal nya cuma buat "nyelesain tugas dengan sebaik-baiknya".
Tapi kalau kerja bareng, gue rasa juga kurang. Karena pemikiran orang dengan kata-kata "kerja bareng" yaaa ga jauh beda dengan kerja kelompok atau gotong royong atau apapun itu lah yang menunjukkan "bersatu kita teguh bercerai kita ke Pengadilan Agama"

Tapi kalau dengan kata "kerja tim" otonmatis" lebih dari sekedar hanya bertujuan visi misi aja.
Komitmen juga, integritas juga, dan PEKA juga.
Apalah arti komitmen, integritas, tanggung jawab tapi tanpa PEKA baik buat lingkungan intern maupun eksternnya.

Gue pikir *sok mikir lo*, komitmen orang, integritas orang, ga terpaku dengan rajin hadirnya dia AJA.
Ada kata aja lho disana.
Tapi lebih berarti ketika komitmnen orang, integritas dan nananasollasido nya itu diganti dengan PEKA.
Gue rasa satu kata itu udah berarti banget lho.

Peka itu..
Ketika program kerja divisi lain kita ikut mensukseskan dan membantu mereka mengurangi kekurangan dan melebihkan kelebihan.
Peka itu..
Ketika ada rapat, satu orang berbicara yang lain harus menyimak dan bisa merasakan bagaimana seandainya kalau kita berbicara tapi ga didengerin orang lain.
Peka itu..
Ga ambil keputusan dengan gegabah dan mentah-mentah, tapi tanya juga pendapat orang lain dan mencoba peduli dengan pemikiran orang lain.
Peka itu..
Ketika satu orang ga hadir rapat atau kegiatan, patut dipertanyakan tapi BUKAN menyalahkan.
Peka itu..
Menghargai setiap alasan orang lain, tapi TIDAK MENERIMANYA secara mentah-mentah.
Peka itu..
Peduli ketika pengurus atau divisi ada masalah internal.
Peka itu..
Ketika kita mampu peduli dalam hal apapun untuk MENCIPTAKAN kenyamanan tidak hanya buat diri sendiri tapi untuk orang lain di organisasi itu.
Peka itu..
Ketika kita bisa merasakan pemikiran dan perasaan pengurus yang satu dengan yang lain.
Peka itu..
Ketika kita bisa paham dengan permasalahan dunia luar dan menjadikan bahasan menarik untuk dicarikan solusi oleh organisasi kita.
Peka itu..
Tidak memaksakan pemikiran dan pendapat sendiri tapi juga menyertakan pemikiran dan pendapat orang lain.
Peka itu..
Tidak hanya berfokus pada KEBERHASILAN menjadi tujuan utama semata, tapi berfokus juga pada KEMAMPUAN yang memang dipunyai kita.
Peka itu..
Mawas diri, optimis, berusaha realistis, tapi tidak mendzhalimi satu sama lain bahkan diri sendiri.

Dan masih banyak lagi.

Nggak mudah emang. Siapa bilang sih itu semua mudah?
Setiap orang punya kepribadian yang berbeda-beda, sikap, dan perilaku yang berbeda-beda. Tapi..

Justru itulah yang menjadi TUGAS organisasi yang paling utama.

Menyatukan setiap pemikiran, perilaku, nananasollasido nya menjadi sebuah BENTUK NYATA untuk pihak luar (bisa sekolah, universitas, negara, dunia) dan pastinya sesuai dengan visi misinya organisasi itu.

Kerja tim ideal yaa seperti itu.
Dan sejauh ini.. Gue baru merasakan kerja tim yang ideal cuma 2 kali.
Pertama pas gue organisasi ROHIS waktu gue SMP kelas 2.
dan Kedua pas gue MPK-OSIS waktu gue SMA kelas 1 (gak sih, waktu itu gue di MPK tapi efek OSIS nya ikutan kerasa loh di MPK).
Yaaa,,kita nyaman banget di organisasi itu.

Rasa nyaman di organisasi bukan berarti itu organisasi ga punya masalah ya.

Pasti yang namanya masalah itu ada, tapi yang gue suka dari keduanya itu yaaa PEKA nya itu ditunjukin banget. Kita nyaman ada disana, ga ada jarak antara yang memimpin dengan yang dipimpin. Ga ada istilah "gue udah lama di organisasi ini, lo masih baru" dan sebagainya.

Kita nyaman aja berkerja sama meskipun pasti terkadang ada selisih pendapat tapi...

Organisasi yang baik seperti itu pasti menimbulkan rasa "semangat" dan "kangen" buat kumpul terus. Berasa rumah. Rasanya curhat sama mereka itu ga masalah. Dan pastinya bisa saling mengingatkan dan menyemangati satu sama lain buat mencapai visi misi organisasinya itu TANPA harus menjudge dan menyalahkan.

Sama satu lagi, gue suka sama Dosen gue yang memberikan singkatan, kalau TEAM itu adalah
T : Target
E : Earn
A : Any
M : ore
Yaaa, ga cuma satu hal aja yang bisa kita dapatkan dengan tim itu, tapi banyak banget. Kalau kita juga bisa memanfaatkannya.

Jadi kangen kalian dan ngumpul bersama.. :)

Saturday, March 3, 2012

Setelah Kesulitan Pasti Ada Kemudahan

Sesi curhat nih ceritanya..
Lagi-lagi curhat dan semoga pada ga sebel baca curhatan gue.
Hmm.. Sebenernya dibilang curhat juga ga sih. Lebih tepatnya berbagi kisah..

#haha..maksa lu del!#

Kemarin itu, tanggal 27 Februari 2012..
#gue tau kali del, kemarin tanggal segitu#

Bukaaaannn,, ini pembukaan..

Jadi ceritanya, gue tepar banget nih hari Minggunya, meskipun gue tau buat hari Senin ada tugas bikin apalah itu proposal  *sok sibuk* buat organisasi gue. Gue mencoba bikin semampu gue dengan sisa-sisa kekuatan jiwa raga dan harta benda buat negrjain tuh proposal. Dan walhasil gue cuma bisa mengerjakan 1 proposal dari 5 yang disuruh.
Dan molor lah gue dengan nyenyak, tanpa dosa dan bersalah dengan tugas kuliah Analisis Pengembangan Jabatan gue *untungnya tugas kelompok* yang entah nasibnya gimana. Sebenernya gue merencanakan bangun jam 2 pagi, dan menyetel alarm di HP gue sebelum bobo.

Gue pikir gue mampu buat bangun jam 2, tapi..
Sayup-sayup gue mendengar suara adzan..
WTF!!!! Jam berapa nih????
Gue buka HP gue, cek kenapa alarm gue ga nyala..
Sumpah serapah keluar dari bibir gue meskipun kesadaran akibat bangun tidur belum sepenuhnya...

GUE SALAH NYETEL ALARM, MEEENNN!!!
Lo tauuuu?? Tau ga looooo?
*narik kerah baju*
GUE NYETEL JAMNYA BUKAN JAM 02.00 TAPIIII...
JAM 14.00!!!!!
Demi apapun gue gak tau yang ada dipikiran gue.. Ahamdulillah sejujurnya SD gue ga nyogok kok..
Dan kesialan dan penderitaan bertubi-tubi mulai datang dalam hidup gue.
Gue liat jam, masih jam 05.00, masuk kuliah jam 08.00. Masih ada 2 jam lagiiii..

Nyantai kah gue kayak di pantai?

Ada SMS masuk, dan isinya..

Bukan sms minta pulsa kok.. TAPI INI LEBIH MEMBEBANI HIDUP GUEEEE!!!

Intinya,"proposal dikirim ke email paling lambat jam 07.00 pagi yaaa.."

Riang sekali isi smsnya.. SAYANGNYA GAK SAMA SEKALI BUAT HATI GUE RIANGGG!!!

Otak gue berhenti bekerja, bengong tak berdaya, dan..
Gue dengan pasrahnya SMS temen gue kalo kemungkinan gue bolos kuliah. Mesipun, HELLOOOOOO, mungkinkah gue bisa mengirimkan nya tepat jam 7 sedangkan saat itu nyawa gue pun belum sepenuhnya terkumpul????

Say sorry for my mother karena gue ga kuliah hari itu.. Gue pasrah se-pasrah-pasrahnya pasrah, waktu kuliah gue diganti dengan membuat proposal nan cantik itu..

Gue utak-atik, tapi pikiran gue kebelah dengan tugas Analisis Pengembangan Jabatan nan ganteng itu. Akhirnya, gue mencoba menyempatkan waktu buat "membantu" (kata ini ga tepat sh sebenernya karena SESUNGGUHNYA gue ga bantu sama sekali) teman-teman gue dengan membuat kesimpulan.

YEAH..Kesimpulan doang padahal.
But, gue ngerjain kok..dengan cepatnya gue selesaikan dan gue bersiap-siap untuk ngirim lewat email temen gue..
1 menit.. 2 menit.. 5 menit.. 10 menit..
Demi Tuhan..
Lemot selemot-lemotnya lemot nih modem gue.
Pasrah, lari lah gue ke kamar mandi buat ngapain kek sesuka hati gue di dalam sana.
Setidaknya gue berharap setelah gue di kamar mandi yeaah tuh attach file udah ke upload.

Pas gue balik nggak sabar buat ngeliat laptop canggih nan berteknologi mutakhir masa kini ini....

Gue ngejerit se-jerit-jeritnya..

LAPTOP GUE KOK LAYARNYA ITEM??

Gue coba nyalain..
Ga bisa..
Nyalain lagi..
Nothing..
Cabut baterainya, masukin lagi, nyalain lagi..
Still, it didn't happen with my "lovely" laptop.

Panik kah gue?
GA USAH DITANYA LAGI KALEEEE..
Awal-awal..masih stay cool.. Ah..mungkin laptopnya kecapekan, butuh ngaso dulu sambil kipas-kipas di alam bawah sadar dia..
Beberapa menit kemudian, pikiran gue melayang ke tugas-tugas, harapan gue, dan segala macam apapun data baik itu data penting, semi penting, bahkan sampah sekalipun yang masih gue anggap berarti.
I panicked again...

Gue coba hal yang sama berulang kali..
Sebel merajalela, membahana tiap relung hati gue. Rasanya pengen gue banting nih laptop tapi untungnya gue cerdas dan punya akal sehat yang tetap jalan ketika dirundung masalah.

#yakin lo cerdas?#

Ga 100% yakin sih..
Tapi 500% yakin sepenuhnya begitu..

HAHA..Sampah..

Akhirnya gue mulai mengabari teman-teman gue, sok minta maaf, nada sms menyedihkan sedemikian rupa supaya teman-teman gue ikutan sedih.. Hebatnya gue, mereka ikut prihatin..
Atau jangan-jangan rasa prihatin mereka cuma pura-pura yaa??
Yeah..setidaknya gue pengen pamer laptop gue rusak dan betapa menyedihkan nya nasib gue hari itu.

Sebenernya sih menyedihkannya dalam kasus begini.
Laptop gue mnedadak say goodbye tanpa permisi dengan posisi semua tugas gue..
(hmm..kurang bagus penulisannya)
SEMUA TUGAS GUE belum di save ke Flash disk unyu gue itu. Termasuk proposal RIANG itu.

Kembali panik.
Kembali inget tugas-tugas gue.
Kembali ingat duit.

YEEAAAHHH, Kalo rusak dan mesti dibenerin mesti pake duit kan?? Mana ada sih gue minta abang-abang tukang servis komputer dengan gratis tanpa bayaran kecuali tuh abang-abang cem-ceman nya gue.

Kenyataannya NGGAK kan???

Oke, gue mencoba ga panik. Dan entah mengapa mulai mewek.
Nangis lah gue. Cobaan gue penuh banget buat hari ini.
Gue nanya sama kakak gue tentang nasib laptop gue yang menyedihkan ini, kali aja kakak gue pernah merasakan hal yang lebih menyedihkan daripada laptop gue dan bisa kasih saran asalkan jangan ucapan belasungkawa aja buat gue.

Dan kakak gue ngasih saran begini,"cabut aja dulu baterainya, kepanasan kali. Nanti pasang lagi terus baru nyalain."

Yeah. Batin gue berkata setuju aja.

Gue cabut baterai, dan so? Gue mesti ngapain?
Cerdasnya gue, gue tidur..
15 menit dan itu entah mengapa, mungkin karena kecerdasan yang luar biasa dari otak gue, hal itu mampu gue lakuin.

Selesai tidur bentar, gue coba lagi, lagi, lagi..
Tapi nihil.
Sama nihilnya kayak harapan gue.
Pasrah, gue sms temen gue buat numpang minjem laptop buat ngerjain proposal RIANG dan MENYENANGKAN hari gue itu.
Hebatnya, Allah memang selalu hebat. Teman gue juga ga kuliah karena sakit.

Gue bilang, kalo sampe jam 9 ga nyala juga nih laptop, gue cusss ke kost-an nya.
Dan ini baru jam 8.
Batas waktu ngumpulin proposal lewat, tapi gue mah bodo amat. Kenyamanan hidup gue lebih penting daripada tuh proposal.

Gue masak mie (yeah beginilah nasib mahasiswa kere) dilanjutkan dengan mandi sambil nyanyi-nyanyi denga n suara merdu gue.
Tanpa beban, meskipun terkadang keingetan tugas pasti muncul tanpa diminta.

Selesai mandi gue caooo ke rumah teman gue dengan hati ngedumel.

Perjuangan dimulai.

Gue mulai nebeng laptop nya buat ngerjain proposal dan dia ngerjain juga anggaran dana
*FYI : Gue sekretaris, dia bendahara*
Gue mencoba berpikiran positif, dan temen gue nego waktu buat ngumpulin akhirnyaboleh dikumpulin sebelum jam 12.

Pikiran gue, proposal tinggal copas tahun kemarin aja kali ya?
(kebiasaan mahasiswa yang buruk, extremely yes)
Jam 10 lewat 15..
10.30..
10.45..
11.00..

Yeah.. satu proposal pun belum ada yang selesai.
Good job, Del.

Gue pasrah, yang awalnya niat mau ikut kuliah jam 1, akhirnya dengan rasa berat hati dari seorang mahasiswi berprestasi macam kayak gue ini, gue sms temen gue kalo sepertinya gue ga bisa ikut kuliah lagi.

Jam udah menunjukkan 13.15. Temen gue mau mindahin data dari laptopnya sebentar.
Gue istirahat dulu dan pas gue mau ngerjain lagi.

Ya Allah, Ya Rabbi.. Cobaan apalagi yang kau beri untukku?
Proposal yang udah capek-capek gue buat selama berjam-jam, hilang entah kemana dan artinya?

Plis, bukan gue tambah girang.

TAMBAH SEMAPUT!!!

Gue menggerutu, sumpah serapah dalam hati, mencoba berpikiran positif dan..
Ujung-ujungnya sih pasrah. Pasrah mengulang kembali proposal yang telah lenyap tanpa merasa berdosa sekali dia dengan hal itu.

Jam 16.00, bodo gue ga peduli mau dikumpulin kapan.

Jam 17.00.. My God.. Gue ada rapat.. Bodo, untuk sementara gue ga ikut rapat.

Jam17.20. Yeah, 5 proposal RIANG telah selesai gue kerjain dan tinggal mindahin data anggaran dana.

Sayangnya, yeaaahh..Anggaran dana belum selesai.
Plis Tuhan,aku belum tidur lagi hari itu.

Jam 18.30. Selesai, kirim.
Yaaaa, kayaknya sih jam 18.50. Dan apalagi ini? JAM 19.00 Ada rapat lagi dan itu 2 kegiatan yang berbeda.
Yeaaahhh, hari ini gue punya janji rapat 3 biji. IYA 3 Biji!!!
Dan bodo amat, semuanya gue cancel.
#gaya bahasa lu..#

Berasa banget hari ini gue habiskan untuk proposal RIANG, yang awalnya diharapkan buat dikumpulin jam 07.00 kemudian jam 12.00 dan ujung-ujungnya gue kirim jam 18.50.

Makan tuh proposal.

Ga lama, gue kembali keingetan sama laptop gue. Gue bermaksud buat menservisnya dan menanyakan keluhan penyakitnya seperti apa.
Harap-harap cemas, buru-buru gue bawa ke tukang servis dengan harapan kalo emang diservis bisa selesai secepatnya karena tugas gue lagi heboh-hebohnya minggu ini.

Kurang lebihnya adegan yang sama sekali ga romantisnya begini,

Gue : "Abang, laptop saya mati.."
Tukang servis : (mungkin dia berpikir, emang gue abang lo dan apa pedulinya gue sama laptop lo yang mati? Tapi alhamdulillah dia masih baik hati sama gue) "Mati kenapa neng?"

Yeahh, ucapannya serasa tenang dan seakan-akan yang mati itu kucing garong dengan perut buncit akibat korban asusila kucing lainnya.

Gue : "Tadi lagi ngerjain tugas, ditinggal sebentar tiba-tiba mati sendiri.."
Tukang servis : "Nah lo? Kok bisa mati? Diapain neng?"

Plis bang, kalo tau gue juga kagak dateng deh ke lu.

Gue : " Ga tau bang, sumpah. Ditinggal bentar langsung mati."
Tukang servis : "Coba dilihat, baru chargernya ga?"
Gue : "bawa.." (sambil nagsih ke abangnya)
Tukang servis nyoba-nyoba dan emang ga berhasil.

Tukang servis : "Wah, ini mah yang rusak cahrgernya, neng."
Gue : (dengan nada agak lega) "Beneran bang? Ga rusak laptopnya?"
Tukang servis : "Kagak! Nih coba dah pake charger laptop saya."
Si Abang tukang servis mulai nyolokin kabel charger laptop dia dan gue harap-harap cemas semoga emang bener yang rusak hanya charger laptop gue.

Dan...

Alhamdulillah, yang rusak emang chargernya. Laptopnya emang ga bermasalah.
Tapi, yang bikin masalah itu adalah, PAKAI CHARGER SIAPA GUE NANTI???

Gue nyoba charger laptop temen sekamar gue, ternyata ga cocok. Dan alhamdulillah temen kontrakan yang lain ada yang cocok kabel chargernya.
Hanya aja, agak ngerasa menyusahkan kalo bentar-bentar minjem charger laptop sama orang lain. Mereka kan juga butuh tuh charger.

Tapi yang jadi pelajaran buat gue hari itu cuma satu.
Lagi-lagi gue amat suka sekali dengan Q.S Al-Insyirah,
Wa 'inna ma'al usri yusra. Inna ma'al usri yusra..
Gue suka banget arti ayat itu dari zaman gue SD dan selalu gue yakinin di hati dan pkiran gue tentang ayat itu. Bahwa setiap ada kesulitan pasti berikutnya ada kemudahan.

Gue kalap setengah mati gara-gara laptop ngadat, pikiran gue udah jelek-jelek. Mulai dari ga punya duit lah, data di laptop semua ilang lah. Sampai mikir laptop ga bisa dibenerin.
Di tambah tugas numpuk dan sebagainya.
Tapi Allah bener-bener ngasih kemudahan kalo sebenarnya laptop gue bermasalah di chargernya dan alhamdulillah juga temen kontrakan gue chargerannya bisa nyambung sama laptop gue.

Meskipun lagi-lagi masih ngerasa ngebebanin kalo minjem charger ke temen gue, karena pastinya dia juga butuh juga.

Yah, namanya juga perjuangan. "Kemudahan" yang dikasih Allah ke gue itu pun juga udah alhamdulillah banget. Setidaknya pikiran negatif gue buat semua hal tentang nasib laptop gue ga sepenuhnya bener.

Hari itu bener-bener hari "TERHEBAT" banget deh buat gue... :")




Tuesday, February 21, 2012

This Is My Life, My Choice.. I don't Care What You Say!!!!

Agak mau bercerita sih. Sebenarnya ingin membuka blak-blakan kenapa gue paling males sama segala sesuatu kegiatan (kampus terutama) di hari Sabtu atau Minggu.

Gue tau, tau banget kalo misalkan udah ikutan sama yang namanya organisasi yaa mesti resiko buat kegiatan yang mungkin dilaksanakan Sabtu atau Minggu. Dan gue udah bakal memperkirakannya dan gue siap dengan segala resiko itu ASAL... Tidak SELALU setiap Sabtu atau Minggu pasti ada acara.

Gue mungkin terkesan mengelak dan ga mau kalo kegiatan ada di hari Sabtu atau Minggu dengan alasan "gue disuruh pulang sama ibu gue" atau "gue mau pulang hari Sabtu". Terserah kalian mau nganggep apa dengan alasan gue itu, mungkin ada yang nyangka "manja banget pulang mulu" atau "ini keharusan, kewajiban, mana komitmen lo?". Kalau mau kasar ya, gue bakalan bilang, "Bullshit banget sama yang namanya KOMITMEN". Plis, gue bukan egois atau terkesan manja, atau terkesan melepas tanggung jawab atau alasan-alasan lainnya.

Kalian bisa ngomong gitu karena emang ga pulang tiap minggunya atau kalian emang ga doyan pulang. Tapi alasan gue mengenai  "gue disuruh pulang sama ibu gue" atau "gue mau pulang hari Sabtu" itu emang 100% bener. Karena apa?

Gue amat sangat menghormati ibu gue.

Kalo mau flashback, dulu gue keterima di salah satu universitas negeri Islam di Jakarta dengan jurusan yang diinginkan gue semenjak gue SMA dan satu lagi di universitas negeri di Bogor dengan jurusan yang sama sekali ga disangka-sangka. Awalnya ibu gue menyarankan gue di universitas Jakarta itu, karena selain deket, otomatis gue bisa pulang tiap harinya. Tapi karena gue bertekad dan bersikeras juga mau kuliah di Bogor, akhirnya gue diizinkanlah buat kuliah disana. Inilah salah satu alasan juga kenapa ibu gue selalu melarang gue untuk ikut ujian mandiri di universitas Bandung ataupun Jogja.

Masih belum terima, ibu gue (waktu sisa kesempatan tinggal di asrama sebentar lagi) selalu nanya,"Del, emang ga bisa pulang-pergi kuliahnya?" Dan gue cuma bisa bilang, "ga bisa," karena ada aja kuliah yang jam 7 pagi bahkan sampai sore. Meskipun selama di asrama pun ibu gue selalu mengingatkan untuk pulang tiap Sabtu-Minggu nya. Awalnya gue bingung, apa gue yang manja pengen pulang mulu atau ibu gue yang ngekang gue ada kegiatan dan nyuruh terus untuk pulang tiap Sabtu-Minggu. Bahkan terkadang kalo udah di rumah, ibu gue selalu nanya, "Kamu mau balik kapan ke Bogor?"

Kalo gue jawab dengan kata-kata "Minggu sore, Ma", beliau akan bales lagi, "Emang Senin kuliah jam berapa?"

Ibu gue selalu menyarankan gue balik lagi ke Bogor kalo kuliah hari Senin nya gue siangan, yaa baliknya Senin pagi.

Mungkin menurut kalian semua,"yaelah, alasan lo standar banget. Namanya mahasiswa yaaa emang resiko sibuk." Gue tau kok, dan gue pun juga ngerasain itu.


Ini jujur-jujuran aja. Asal kalian tau, yang bayar gue kuliah disini, bener-bener 100% ibu gue. Gue masih punya ayah dan ga ada masalah sama beliau, hanya saja beliau memang sudah pensiun. Dan cuma ibu gue lah, IBU GUE yang ngebiayain gue kuliah 100% dan adik gue sekolah 100%. Ditambah biaya hidup gue di Bogor sampai sekarang (mulai dari kontrakan, keperluan bulanan, dll). Gue bukan orang kaya, sama sekali bukan orang kaya. Ibu gue cuma Pegawai Negeri Sipil dengan gaji standar yang EMANG MAU BERJUANG buat keluarganya.

Ibu gue nggak ngelarang gue ikut organisasi, ga pernah sekalipun ngelarang gue ikut apapun yang gue inginin (lomba, beasiswa, les, apapun itu yang gue suka). Ibu gue nggak pernah ngeluh tiap gue minta apapun meskipun itu mendadak mintanya atau meskipun terkadang gue mendesak mintanya. Tapi ibu gue cuma minta satu dari gue, selalu, semenjak gue kuliah di Bogor. Sederhana. Pulang setiap kamu bisa pulang, apalagi Sabtu-Minggu.

Dan entah mengapa gue amat sangat menghormati ibu gue.

Gue sering (entah terkesan lebay atau ga buat kalian) paling nggak keluar air mata sedikit tiap muncul namanya di HP gue. Dan itu tanpa gue sadarin dan tanpa gue minta apalagi disengaja.
#plis, gue bukan pemain sinetron#

Karena gue ngerasa, semua hasil keberhasilan gue ga lepas dari ibu gue. Demi apapun, sekalipun terkadang dimata dia, gue anaknya paling nyebelin dan suka ngambek sama dia, gue akan selalu menghormati ibu gue dalam hati gue.

Ibu gue yang mau gue susahin karena gue ngotot minta dia nge-dikte kalimat apapun dan gue nulis kalimat dikte-an nya, gara-gara gue dihina guru SD gue karena tulisan gue jelek.
Ibu gue yang mau susah payah nasehatin gue dan ngelobi gue buat pergi ke dokter mata pertama kalinya karena gue takut periksa mata waktu tau mata gue mulai bermasalah.
Ibu gue yang nggak marah ketika kelas 4SD, rangking gue turun.
Ibu gue yang nyemangatin gue untuk PERTAMA kalinya gue ikut lomba ngewakilin sekolah gue.
Ibu gue yang selalu bayarin buku-buku bacaan gue.
Ibu gue yang senang ketika gue masuk SMP unggulan di kota gue.
Ibu gue yang merelakan ngebayarin gue karena ngotot tiba-tiba mau ikut les vokal.
Ibu gue yang sama sekali ga marah waktu gue dapet kartu hasil PRA-UN 1 waktu gue SMP, dengan nilai matematika gue 3,75 yang batas ga lulus nilainya 3,25. Itu tinggal 3,5 bulan lagi mau UN dan sebenernya gue udah les di sekolah gue (sekolah gue juga ngebuka les) tapi ibu gue (sekali lagi tanpa marah) justru mendaftarkan gue les di salah satu tempat les terkenal, yang mungkin kata orang "percuma banget tinggal 3,5 bulan lagi, buang-buang uang". Dan ibu gue bayar penuh untuk satu semester (karena emang ga bisa bayar setengah-setengah) sampai akhirnya gue lulus SMP dengan nilai rata-rata 9 koma.
Ibu gue yang membebaskan gue mau daftar SMA Negeri mana aja, dan gue pilih SMA Negeri unggulan lain (bukan unggulan pertama) meskipun nilai gue bisa masuk di SMA itu.
Ibu gue yang ngebebasin gue ikut organisasi sebanyak apapun, apapun itu asal ga menyimpang dan selalu gue susahin buat minta duit ini itu.
Ibu gue yang mau gue paksa pas SMA buat bayarin ikut bimbel baru dan bagus (tapi emang bagus dan emang sepadan dengan bayaran yang agak wah dengan fasilitas yang dikasih) meskipun ibu gue nyaraninnya yang lain.
Ibu gue yang ingetin gue jangan tidur malam-malam, waktu sibuk-sibuknya mau UN dan ujian masuk universitas apapun, bahkan sampai sekarang.
Ibu gue yang nyium kepala gue (PLIS KEPALA GUE) setiap kali gue mau ujian masuk perguruan tinggi.
Ibu gue yang selalu nungguin gue di depan pintu pagar rumah (pagi-pagi subuh) sampai gue hilang dari pandangan dia (dianter ayah gue) setiap kali gue mau ujian perguruan tinggi.
Ibu gue yang nganter gue ujian di IPB dan nekat izin bolos kerja demi itu, walhasil gue diterima berkat kehadiran beliau di waktu ujian gue.
Ibu gue yang kaget dan senang banget ketika gue bilang kalo gue keterima IPB (sederhana, ibu gue pun senangnya bukan main gue bisa keterima PTN).
Ibu gue yang selalu banggain gue dimata teman-teman kantornya sampai ada yang beberapa temen ibu gue nge-add facebook gue.
Ibu gue bayar 100% biaya kuliah dan kebutuhan hidup gue sehari-hari.
Ibu gue yang jadi semangat gue buat nyari beasiswa biar gue bisa gunain untuk keperluan pribadi gue atau sekedar bantu beliau meskipun sedikit.
Ibu gue yang selalu hadir dalam DOA gue ke Allah tiap waktu dan terutama tiap gue mau ujian.
Ibu gue yang SAMA SEKALI ga mengharapkan prestasi ke gue, tapi demi apapun gue obsesi dapat prestasi apapun itu, sesuai kemampuan gue dan ridha beliau tentu nya.
Ibu gue yang GA PERNAH mau ngeliat gue ngutang sama siapapun, lebih baik minta uang langsung ke ibu gue.
Dan semua pengorbanan ibu gue lainnya.

Ibu gue ga minta apa-apa. Dan kalau minta pun sederhana.
Cuma minta gue jangan kebanyakan jajan/makan, jangan tidur malam, jangan lupa belajar, dan pulang kalo gue bisa pulang apalagi Sabtu-Minggu.

Pernah waktu bulan Oktober kemarin kalo ga salah, gue bener-bener ga pulang selama sebulan, dan ketika gue pulang.
"Della pulang? Udah inget keluarga?"
Simpel, tapi itu ibu gue.

Jujur, dirumah pun yeaah ngapain juga sih gue disana? Ga ada kerjaan juga yang bisa gue lakuin selain tidur, nonton, jailin adek gue...
Tapi,
"Del, pulang kapan?"
"Del, tadi makan apa? Kok pulangnya mendadak ga bilang-bilang? Padahal mama udah beli ... cuma belum dimasak keburu Della pulang.."
atau tante atau kakak gue juga terkadang sama kayak ibu gue...
"Del, kapan pulang, Dendi ga ada temen berantem katanya."
"Del, pulang kapan? Uni mau wawancara di ... doain ya..."

Simpel. Sederhana. Tapi buat gue mereka lebih dari kata "sederhana".

Kuliah gue ga jauh. Cuma 2 jam kalo dari rumah gue ke Bogor. Tapi entah mengapa mereka amat menuntut gue untuk pulang tiap minggunya, terutama ibu gue.

Dan entah mengapa gue amat sangat menghormati ibu gue.

Yaaa, karena ga ada alasan khusus yang bisa menjabarkan mengapa seperti itu. Karena begitu banyak pengorbanan ibu gue, lebih dari hidup gue sepertinya, dan bukan berarti gue ga sayang sama ayah gue.
Gue sayang beliau juga, sangat. Tapi entah mengapa lewat ibu gue, gue amat sangat belajar tentang yang namanya "pengorbanan".

So, kalo ada yang ngomong, "gue ga mau tau. Mana komitmen lo?" "Ini kewajiban lo..." atau perkataan lainnya.
Makan tuh omongan lo.
Gue mau dan bisa-bisa aja ga pulang Sabtu-Minggu tapi sekali lagi TIDAK SETIAP Sabtu-Minggu atau kegiatannya TIDAK MENDESAK.
Gue ga peduli sama istilah "komitmen", "kewajiban". Itu hak lo.
Tapi hak gue juga untuk mengintrepretasikan istilah lo.
Buat gue,"komitmen" ga harus berarti lo mesti datang tiap gue suruh datang. Tanggung jawab ga diihat dari indikator itu juga, kali.
Terserah anggapan lo, ini pilihan gue, dengan alasan gue. Sederhana alasannya, tapi buat diri gue, alasan ini lebih dari sederhana.
Ya, lebih dari sederhana.
That's it.

:')

Wednesday, February 15, 2012

Sebuah Cerita Tentang Cita-Cita


      Punya guru yang sangat luar biasa? Saya punya. Beliau memang bukan guru saya di sekolah, tetapi hanya guru saya ketika saya ikut bimbingan belajar sewaktu kelas 3 SMA. Biar begitu, saya berani memberikan predikat “guru terhebat” untuk beliau dalam hidup saya. Beliau salah satu pengajar mata pelajaran Fisika dalam bimbingan belajar yang saya ikuti.

    Pertama kali saya mengenal beliau, yang ada dipkiran saya hanyalah, semoga guru yang kali ini bisa membuat saya paham dengan pelajaran yang bernama Fisika. Ya! Inilah kesalahan saya, dari SMP saya selalu menciptakan mindset bahwa Fisika itu susah dan menyusahkan. Dan akhirnya, bisa dipastikan saya luar biasa kesulitan, bingung, bahkan bisa dikatakan menyerah dalam menghadapi ujian, khusunya Ujian Nasional SMA yang memang salah satu pelajaran yang diujikan adalah Fisika.

    Saya mencoba berpikiran positif untuk hal ini dan alhamdulillah doa saya terkabul. Pertama kalinya saya diajarkan beliau, mindset saya mulai terbuka bahwa selama ini saya saja yang tidak pernah mau bersahabat dengan yang namanya Fisika. Setidaknya pikiran saya akan Fisika yang sulit berubah sedikit demi sedikit berkat ajaran beliau. Beliau selalu memberikan pengertian yang paling mudah dalam memahami pelajaran yang satu ini. Lewat beliau, setiap soal fisika seakan-akan terlihat mudah dan tak serumit yang dibayangkan. 

   Guru-guru di bimbingan belajar yang saya ikuti memang semuanya ramah-ramah dan salah satunya adalah beliau. Selain sebagai pemilik dan guru, beliau juga salah satu trainer dari salah perusahaan motivation training di Indonesia.

   Usia beliau masih muda sehingga masih lebih mudah untuk berbaur dengan murid-muridnya. Dia membangun bimbingan belajar ini bersama salah seorang temannya yang sama-sama lulus dari universitas yang sama. Memang bisa dikatakan usia bimbingan belajar ini tergolong masih baru namun berkat kegigihan mereka berdua, bimbingan belajar ini sudah bisa disejajarkan dengan bimbingan belajar lain yang sudah lama terkenal.


Kalau pelajaran dimulai, beliau mengajarkan dasar materinya terlebih dahulu kemudian menyuruh murid-muridnya mengerjakan satu soal dan langsung dibahas bersama-sama. Ssepertinya beliau mengerti bahwa saya masih tergolong jauh untuk memahami mata pelajaran ini.  Saya dapat mengatakan seperti itu karena setiap kali membahas soal, beliau lebih sering menunjuk saya untuk membahas soal yang telah dikerjakan dan saya yakin sebenarnya beliau pun tahu bahwa saya masih kesulitan menemukan jawabannya. Tapi, itulah cara beliau, dia mencoba mengajarkan kepada murid-muridnya supaya berani dan jangan takut salah terlebih dahulu dalam menghadapi soal.
 
Perkembangan nilai fisika saya pun bukan berarti dengan instan nya bisa melejit menjadi lebih baik. Memang ada perbaikan, tapi juga sedikit demi sedikit. Buat saya. selama saya menikmatinya, saya percaya setidaknya pasti ada hasil yang lebih baik karena usaha yang dilakukan juga didasari keyakinan. Dan saya mulai mencoba membuka diri untuk menyukai fisika, mencoba mempelajari, dan memahaminya dengan lebih dibandingkan sebelumnya.


Ujian pertama sesungguhnya dalam menghadapi persaingan ujian nasional dan ujian masuk universitas adalah ujian mandiri yang diadakan oleh Universitas Indonesia, namanya SIMAK UI. Waktu itu saya ingat, pilihan saya cukup tinggi yaitu Teknik Bioproses dan Ilmu Biologi. Saya pun sadar, waktu tidak banyak lagi dan saya harus memahami berbagai mata pelajaran lain dan itu tidak hanya fisika. Nilai-nilai yang saya peroleh bersama teman-teman saya, yang satu kelas di bimbingan belajar, pun sebenarnya bukan suatu nilai yang dapat dikatakan memuaskan. Saya tahu kenyataannya begitu karena ketika saya menanyakan ke teman-teman saya yang ikut bimbingan belajar lain, nilai-nilai mereka jauh lebih baik dari nilai-nilai yang diperoleh saya dan teman-teman sekelas bimbingan belajar saya.

    Tapi, beliau cuma berkomentar singkat, “Soal-soal yang dibuat disini memang bobotnya sedikit lebih sulit dibanding di bimbingan belajar lain. Kalian pasti bisa kok, nilai segini juga sudah bagus banget”. Teman-teman saya percaya itu, tapi entah mengapa saya merasa ucapan dari beliau dilontarkan semata-mata untuk menyemangati kami. Sejak saat itu kami selalu minta paket soal-soal dari bimbingan belajar tersebut, mengerjakan, dan membahasnya bersama-sama tanpa guru-guru terlebih dahulu. Saya akui, di bimbingan belajar inilah saya merasakan kekeluargaan yang sangat dimana satu sama lain saling mengajari materi-materi apa yang belum dipahami.
Suatu waktu sebelum menghadapi ujian dilakukan konsultasi untuk tiap murid dan kebetulan beliau juga yang menangani sesi konsultasi ini. Akhirnya giliran saya yang dipanggil kedalam ruangannya. Beliau membahas penilaian prestasi saya selama belajar disana dan terus memberi semangat kepada saya. Tak lupa menanyakan kendala-kendala apa saja yang saya rasakan dalam menghadapi ujian dan memberikan saran-saran penyelesaiannya. Bercerita dengan beliau sangat nyaman. Kita bebas mengeluarkan apapun yang ada di hati dan pikiran kita dan beliau dengan siap menanggapi semuanya.

    Saya ingat, sebelum konsultasi selesai beliau mengeluarkan 2 buah botol dari laci mejanya dan menaruhnya di depan saya. Kedua botol itu sama-sama berisi nasi yang sudah lama disimpan disana tapi diluar botol ada keterangan yang berbeda. Botol pertama, nasi tersebut terlihat sudah sangat busuk, berjamur, dan sangat menjijikan, botol itu ditulis dengan tulisan “kata-kata buruk”. Dan botol satu lagi, nasinya tidak berjamur, hampir terlihat bersih, dan lebih nyaman untuk dilihat, botol itu ditulis dengan tulisan “kata-kata baik”.

    Beliau berkata, “Kamu lihat kan? Betapa berpengaruhnya kata-kata positif atau negatif itu. Kakak ucapkan kata-kata negatif selama sebulan penuh ke botol pertama dan hasilnya seperti ini. Dan si botol satu lagi, kakak ucapkan kata-kata positif terus menerus selama satu bulan penuh juga dan lihat perbedaannya. Setiap benda memberikan tanggapan tersendiri terhadap apa yang dilihatnya, didengarnya, dirasakannya, dan nasi ini buktinya. Apalagi manusia. Makanya, perbanyaklah memuji diri sendiri, perbanyak ucapan kata-kata positif untuk diri sendiri, dan Insya Allah bisa menjadi manusia yang baik pula.”

    Sekali lagi aku belajar darinya.

    Suatu saat, kami shalat ashar berjamaah. Memang kebetulan konsep bimbingan belajar ini juga islami. Selesai shalat kali ini beliau memberikan semangatnya kembali untuk murid-muridnya, “Mungkin, kalian sama-sama belajar di sekolah seperti teman-teman kalian yang lain. Sebelum belajar kalian sama-sama berdoa, setiap hari juga ikut les di tempat masing-masing, sama-sama belajar, entah mengerjakan soal, meringkas, dan sebagainya. Sepintas usaha kalian setara dengan mereka. Tapi pernahkah kalian berpikir untuk berusaha lebih dari mereka?”


“Usaha yang sedang kalian lakukan, masih dibilang ‘usaha orang yang rata-rata’. Toh usaha-usaha yang dilakukan tidak jauh berbeda dengan teman-teman kalian lainnya. Tapi pernahkah kalian mencoba, saat guru tidak masuk kelas dan teman-teman kalian dengan asyiknya bergerombol saling mengobrol menghabiskan waktu, sedangkan kalian memilih untuk membuka buku soal-soal dan mencoba menjawabnya? Ketika teman-teman kalian memilih setelah pulang les lalu segera tidur, sempatkah kalian mencoba meluangkan waktu barang satu jam saja untuk mencoba mengerjakan soal-soal kembali? Kalian harus bisa menjadi orang dengan usaha yang ‘di atas rata-rata’. Jangan mau merasa sudah cukup puas dengan usaha yang sama dengan orang lain. Mungkin kalian bukan yang paling hebat diantara mereka, tapi menjadi seorang pionir, kakak rasa itu sudah jadi sebuah prestasi tersendiri untuk diri kalian.”

    Sampai sekarang, kata-kata itu masih saya ingat dan akan saya jadikan penyemangat dalam hidup saya.
“Sekarang, setelah ini masing-masing mengambil kertas yang ada di meja kakak dan kita sama-sama menuliskan ‘SAYA, … (tulis nama kalian) ADALAH MAHASISWA JURUSAN … (tulis jurusan yang kamu inginkan) UNIVERSITAS INDONESIA TAHUN 2009’ nanti kalian pasang di dinding kamar kalian.”


Dan kami melakukannya. 

    Saya menuliskan tidak hanya dikertas itu, tapi di buku-buku catatan saya, di kertas-kertas soal saya, dan apapun itu saya mencoba menuliskannya. Entah mengapa ada kekuatan tersendiri dari berbagai macam nasehat dan saran dari beliau untuk diri saya.


Hingga ujian SIMAK UI tinggal beberapa minggu lagi. 


  Waktu itu saya sepakat bersama teman-teman sekelas saya untuk menginap di tempat bimbingan belajar tersebut dan membahas soal-soal sebanyak mungkin. Dari siang diselingi dengan istirahat tentunya, kami belajar terus bersama-sama dan beliau ikut menemani kami untuk menginap. Kebetulan besoknya hari Kamis, saya dan teman-teman sekelas saya juga sepakat untuk puasa sunnah bersama-sama bahkan yang membuat saya salut, salah seorang teman saya yang beragama non-Islam ikut berpuasa dengan kami dengan cara agamanya sendiri, tidak terkecuali guru saya tersebut. Kami juga bersama-sama shalat tahajjud, berdoa bersama-sama, dan sahur bersama. Terkesan berlebihan kah? Buat saya tidak. Saya menikmatinya begitu juga dengan teman-teman saya. Dan saya rasa dengan semakin banyak kita menunjukkan usaha dan ibadah kita ke Allah, setidaknya tidak perlu merasa malu untuk meminta lebih kepadaNya, bukan?
 
Hingga akhirnya ujian tersebut dilaksanakan dan hasilnya?

     Belum ada dari kami yang lolos dalam ujian tersebut. Saya dan teman-teman sekelas saya. Tapi beliau menanggapinya dengan senyum, dan hanya berkata , “rezeki tiap orang berbeda-beda dan sudah diatur oleh Allah. Jadi tenang saja.”
 
    Singkat tapi benar adanya. Dan lagi-lagi saya masih mengingatnya.

    Ujian berikutnya, kami sibuk dengan Ujian Nasional. Untuk kali ini siapa pun tidak mau mengharapkan kegagalan. Saya masih ingat ketika H-2 Ujian Nasional dengan waktu setelah shalat maghrib berjamaah, beliau kembali menasehati semua murid-muridnya, tak terkecuali yang non-Islam. 

   “Kakak mau sedikit cerita. Ada sebuah kisah tentang seorang wanita yang belum dikaruniai seorang anakpun selama bertahun-tahun. Berbagai macam cara apapun, berdoa kepada Allah, puasa, apapun itu sudah dilakukan namun belum ada hasil. Akhirnya dia mengunjungi seorang ustadz dan sekedar menanyakan hal apa yang seharusnya dia lakukan agar keinginannya tercapai. Ustadz itu hanya menyarankan, ‘tuliskan 10 nama orang-orang yang juga mengalami hal yang sama seperti anda dan berikan kepada saya besok’. Wanita itu mencari orang-orang yang bernasib sama dengan nya dan keesokannya dia kembali mengunjungi ustadz tersebut.”

    “Ustadz tersebut mengamati kertas yang berisi nama-nama orang yang ditulis wanita tersebut dan hanya kembali berkata, ‘yang harus anda lakukan cukup mendoakan dengan ikhlas ke-sepuluh orang ini agar mendapatkan anak seprti keinginan anda’. Wanita itu sepintas merasa bingung dan kesal, toh dia yang meminta agar bisa memperoleh keturunan, tapi justru dia yang harus mendoakan sepuluh orang yang bernasib sama dengannya. Tetapi, karena keinginannya yang sangat kuat, akhirnya dengan ikhlas pula dia melakukan apa yang disarankan oleh ustadz tersebut. “

    “Beberapa bulan kemudian, wanita itu kembali mendatangi ustadz dan mengucapkan terima kasih yang sangat kepadanya. Akhirnya wanita tersebut berhasil mengandung seorang anak dan tak lupa ia menanyakan mengapa hanya dengan mendoakan ikhlas orang-orang yang senasib dengannya berdampak seperti ini. Sang ustadz hanya berkata, ‘Kalau kita punya keinginan, doakanlah dengan tulus orang-orang yang memiliki keinginan yang sama. Dengan mendoakan orang lain justru akan mempermudah kita mendapatkan apa yang kita inginkan.’ Jadi, kalian semua sama-sama punya keinginan lulus Ujian Nasional, saling mendoakanlah kalian untuk lulus bersama-sama.”


Saya belajar lagi darinya.

      Dan hasilnya kami lulus Ujian Nasional bersama-sama.


Dari kami, seiring berjalannya waktu, satu per satu sudah mulai ada yang diterima universitas baik lewat jalur undangan tanpa syarat atau lewat ujian mandiri. Namun saya belum mendapatkannya meskipun teman-teman sekelas saya di temapat bimbingan belajar pun juga ada yang belum mendapatkan universitas. 


Lagi-lagi saya masih ingat ketika beliau menceritakan kisahnya ke kami.”Dulu kakak bukan orang yang punya rangking satu, juara umum, dan sebagainya. Kakak bahkan dianggap murid paling tidak berpotensi dan tidak berprestasi oleh guru-guru di sekolah kakak. Sampai akhirnya, suatu hari kakak disuruh maju oleh guru kakak, beliau menanyakan cita-cita kakak dan kakak menjawab ‘saya ingin kuliah di jurusan teknik mesin, pak’. Apa tanggapan beliau? Beliau tertawa dan mengejek saya, ‘teknik mesin apa? Mesin jahit?’. Disaat itulah kakak berjanji dalam diri kakak untuk bisa membuktikan cita-cita kakak ke beliau.”

     “Kakak datangi teman kakak yang mendapatkan juara umum di sekolah, kakak tanya banyak hal apapun, bagaimana cara dia belajar, kapan saja, dan sebagainya. Kakak modifikasi hal-hal yang kakak pelajari darinya dan… cawu berikutnya kakak juara pertama dikelas bahkan juara umum. Dan kakak buktikan juga dengan bisa masuk Universitas Indonesia lewat jalur PMDK di jurusan teknik elektro.”

     “Kakak tidak bermaksud menyombongkan diri, tapi kakak hanya ingin semangat kalian bahkan bisa lebih dari semangat kakak waktu dulu. Orang sukses itu mereka pentang menyerah, dan kalau kalian menyerah kamu akan susah menjadi orang sukses.”

     Saya mengingatnya dan akan selalu saya ingat.

      Beliau luar biasa hebatnya. Lulus dengan nilai memuaskan, memiliki beberapa usaha dan soal materi jangan ditanya. Tapi beliau tetap menunjukkan kesederhanaannya, sikap bijaknya, dan menularkan segala hal positif untuk murid-muridnya. Banyak hal, sangat banyak hal yang beliau tunjukkan kepada kami, mencoba terus menyemangati kami, hingga akhrinya semua murid-muridnya, khususnya saya dan teman-teman saya, alhamdulillah bisa masuk Perguruna Tinggi Negeri dengan jurusan yang juga diminati banyak siswa. Dan alhamdulillah saya kini kuliah di Institut Pertanian Bogor berkat semangat-semangat dari beliau.
                                                                             
 ***
Suatu waktu beliau menyenandungkan lagu “Laskar Pelangi” di samping saya ketika istirahat kelas sedang berlangsung. 
“Jangan berhenti, mewarnai.. Jutaan mimpi di bumi…”
Saya tersenyum dan rasanya ingin menangis. Waktu itu belum ada universitas yang mengambil saya untuk menjadi salah satu mahasiswanya. “Tuh kan, jangan pernah berhenti buat bermimpi, berkat mimpi itulah banyak orang-orang ‘kecil’ menjadi ‘besar’ dan sukses dikemudian harinya. Semangat Della, sebentar lagi kamu pasti keterima di unversitas terbaik di Indonesia.”
Beliau pergi dan meninggalkan sebuah kertas yang bertuliskan kata-katanya di buku saya, 
“Tulis impian kamu di selembar kertas harapan dengan pensil keyakinan dan biarlah Allah menghapus dengan penghapus takdirnya. Insya Allah itu yang terbaik untuk hidupmu”

       Ah, kak. Engkau memang guru yang paling luar biasa!




Friday, February 3, 2012

Karena Tuhan Tak Pernah Gagal

Saya suka dengan salah satu quote yang diucapkan oleh Bapak Ciptono, salah seorang kepala sekolah Luar Biasa di Semarang. Kurang lebihnya begini,
"Anak yang memiliki berkebutuhan khusus, bukanlah produk yang gagal. Karena Tuhan tidak pernah gagal."

Ya, itu benar banget. Orang-orang dengan keterbatasan (katakanlah orang-orang tuna netra, tuna rungu, grahita, dsb) yang kadangkali di anggap "berbeda" dan di "acuh" kan oleh masyarakat, sebenarnya mereka tidak pantas diperlakukan seperti itu. Mereka sama halnya dengan manusia yang lain, hanya saja dengan "kemampuan" yang berbeda dengan kebanyakan orang lainnya.

Benar, mereka bukan produk gagal.

Begitu juga dengan orang-orang keterbatasan fisik, seperti cacat. Kalau mereka mau juga, mereka ga ingin dilahirkan "berbeda" dari orang kebanyakan lainnya. Tapi lewat keterbatasan itu lah mereka bisa mencari "kelebihan" dari diri mereka sendiri.

Allah tak pernah gagal.
Dalam hal apapun, Dia tak pernah gagal.
Dalam menciptakan manusia, makhluk hidup lainnya, alam semesta, Dia tak pernah setengah-setengah.
Kalaupun ada kekurangan, pasti ada kelebihan dibaliknya.
Mungkin terkadang ada yang merasa, "kok dia beruntung banget. Udah cantik, pinter, banyak orang yang menyukai dia. Sedangkan gue?"
Tapi pernahkah berpikir, "Terima kasih Tuhan, kau telah ciptakan semua dengan seadil-adilnya."

Allah selalu adil, tidak pernah tidak.
Yang menganggap tidak adil itu justru pikiran kita sendiri.
Cakep bukan segalanya lho. Pintar tapi ga diseimbangi dengan rendah hati juga percuma.

Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna.
Apapun itu, bagaimanapun kondisinya. Itu janji Tuhan.
Kenapa masih mengeluh?

Pernah ga berpikir, diluar sana, bahkan yang punya keterbatasan aja mampu menghasilkan suatu yang "lebih" dibandingkan kita yang setidaknya "mampu" tapi tidak bisa menghasilkan apa-apa.

Yang bisa memberikan predikat apakah dia "gagal" atau "ga" adalah diri kita sendiri. Bukan orang lain, apalagi Tuhan.

Kita dilahirkan sudah sempurna, tinggal bagaimana usaha kita untuk senantiasa memberikan prestasi yang ga cuma di dunia, tapi juga buat akhirat.
Tinggal bagaimana kita memanfaatkan kesempurnaan yang sudah Allah berikan dan menjadikannya sebuah "keberhasilan".

Tuhan sudah berikan semua, tinggal bagaimana cara kita memanfaatkannya.
Itu aja.

Berhenti mengeluh kalau kita ga bisa apa-apa.
Diluar sana banyak orang yang "terbatas" tapi hebatnya luar biasa.
Berhenti mengeluh kalau kita ga beruntung.
Diluar sana banyak orang yang memilih "berusaha" daripada "mengeluh" untung mendapatkan keberhasilan.
Berhenti mengatakan, "apa aku bisa?"
Tapi katakanlah, "bagaimana caranya supaya aku bisa?"

Kita, ciptaan paling sempurna yang dibuat Tuhan.
Jangan sia-siakan kepercayaannya.



*Fa bi ayyi alaa irabbikuma tukadzibaan..*
#maka nikmat Tuhan mu yang manakah yang pantas kau dustakan?#

Saturday, January 21, 2012

Anak Kecil dan Cinta-Cintaan..


Anak zaman sekarang, doyannya ngomongin cinta mulu.

*gengsi ye*
#pasti karena lo ga punya cowok#
HAHA

ga lucu.

Bukan.. bukan itu. Tapi gue miris betapa udah genit-genitnya anak-anak kecil zaman sekarang. Ga lagi anak SD, TK pun juga.
Yeaah, karena sepupu gue yang masih pitit itu udah demen ceng-ceng an tentang cewek.
Cumaaa, gue belum pernah liat aja nih anak-anak PAUD bercanda tawa tentang cinta. Yeaaahh, kali aja udah kenal sama yang namanya suka-sukaan.

Haha.. geleuhh..

Ralat dulu yah, cinta di sini untuk lawan jenis lhoo..

Tapi,. sebenernya apa aja sih yang buat anak kecil udah berpikiran kayak gitu?
Gue mencoba menganalisis nih, tapi kalo rada error dan gak makna yaa sorri-sorri ajaaa, men.. haha

1. Pengaruh Film dan sinetron TV masa kini
Yeaahh, kalo yang ini mungkin jelas berpengaruh. TV mudah buat di akses, kapan saja, dimana saja. Dimana saja nya yaa bisa di rumah, di rumah temennya, di rumah neneknya, dan di rumah-rumah lainnya. Haha..
Yaa, wong ibu-ibunya doyan juga nonton sinetron di rumah, kalo yang ga kerja atau pas pulang kerja. Dan kalo ibu nya kerja, yaa pembantu nya yang nonton sinetron. Mending nonton nya yang berbobot, kalo ga film-film FTV yaa yang siluman-siluman. Haha
Kasian bocah-bocah itu ya?

Sekalinya acara buat mereka, sebut saja namanya film kartun, cerita nya juga ada unsur-unsur begitunya. Meskipun kadarnya dikit. Haha

Lama-lama tingkat pubertas seseorang makin memuda deh.
*maksudnya udah puber di usia muda*


Gue inget, waktu sepupu gue lagi nonton iklan, ada iklan sinetron sa*ria di Ind***ar. Dia nanya sama ayahnya, kurang lebih pecakapannya seperti :

Raffi (nama sepupu gue) : " Papa, aku boleh nonton ini ya, pa?" (dengan tampang memelas)
Papa nya : " Film apa tuh? film anak kecil bukan ?"
Raffi : "Iya pa, itu film anak kecil kok"
Papa : " Bo'ong ah, pasti film orang gede.."
Raffi : " Bukan pa, itu film orang tua..."

Bodoh..
Makin ga dibolehin lah dia nonton tuh sinetron. HAHA.

#FYI : sepupu gue baru TK o (nol kecil maksudnya, kan kalo nol besar --> O)
HAHA

2. Lagu anak-anak makin menipis
Yeaaahh, yang ini juga udah jarang denger kan? Palingan yaaa, lagu jaman-jaman dulu yang di nyanyiin ulang. Dan kalaupun ada yang baru paling kayak gini, " mang..emang..emang..emang..betul.. mang, emang, emang, emang betul..." gitu aja diulang-ulang. Yaa, better lah ya, setidaknnya ada gitu lagu buat anak kecil. Tapi porsinya dikit banget.

Yang zamannya sekarang mah ga jauh dari girl band-boy band.. atau lain kali buat boy-girl band aja sekalian. Nih yaa, anak-anak kecil di deket kontrakan gue di Bogor tuh nyanyi nya kalo ga Dile*a nya Ch*rryb*ll, Pl*yb*y nya *ic*n, bahkan lagu-lagunya w*li.

#FYI lagi ya..anak-anak tersebut paling umurnya 4-5 tahun.

Ada yang kocak lagi, waktu itu gue mau beli pulsa di konter deket kontrakan gue, ada anak kecil, di pasangin lagu w*li..
Wedeeehhh, goyangnya hot bener..
Info lagi nih, gue taksir umurnya 2-3 tahun.

Apalagi kalo denger lagu alamat palsu kali ya?
Haha..

3. Anak kecil zaman sekarang "kepo" nya lebih gede
Iya nih, lo liat deh, ada apa aja yang baru.. anak kecil pengen banget tau...Dikit-dikit kepo banget..Kalo pengen tahu nya tentang pengetahuan gitu..ini mah tentang hal-hal yang aneh-aneh..
Kalo ga di kasih jawaban, pasti pasang muka menjijikan dan mengharuskan kita ngalah buat ngasih tau. Hmmm pinter-pinternya kita juga sih yang jawab.
*pinter ngeles maksudnya*

Kaya gini nih.

Raffi : " Uni, itu film apa?"
Gue : " Film orang gede. Raffi ga boleh nonton."
*salah sih emang jawabannya* tapiii..
#emang lo nonton apa del?#
HAHA..

FTV doang..Lagi labil gue.. HAHA
Lanjut.

Raffi : " mau nonton.."
Gue : " yahhh,film nya abissss... mending nonton ini nih..." (gue pindahin ke discovery channel, TV nya dia kebetulan pake parabola)
Gue : "Lucu kan mereka? Liat tuh.. gede banget mau makan rusa.."
Raffi : ga nanggepin gue, kabur. dan asyik kembali dengan mainannya.

Efeknya juga gue ga bisa lanjutin nonton lagi.

Susah ya? kepo banget. Mending main sono deh, jaman dulu kayak nya gue habiskan untuk bermain selain belajar tentu nya..
*deuuuhh sombong bener.. lo kira BOBO, teman bermain dan belajar..*


Bentar-bentar. Kok jadi ga sesuai maksud sih?
Nyambung ga sih?

Kan intinya kenapa anak kecil sekarang aja udah ngerti cinta-cintaan kan?
Yaaa, karena faktor-faktor itu.

Kalo yang bukan umumnya yaa bisa karena kurangnya pengawasan orang tua terhadap apa yang dia lihat (terutama) ya, dengar, dan lain-lain. Atau memang masih sedikitnya media yang cocok untuk mereka.

Tapi beginilah jadi nya, anak TK, SD, SMP pun udah geleuh-geleuh dan sok dewasa. Beuuuhh, laga looo..
Apalagi kalau udah punya FB, Twitter, dan lain sebagainya. Lebay deh tulisan-tulisannya.
Begitulah faktanya.

Sebenernya sih yang lebih penting, mungkin didikan orang tua kali ya? Lebih banyak diberikan pemahaman-pemahaman tentang agama, hal-hal positif tapi juga tidak menggurui anak kecil. Mungkin itu bisa di coba.

Udah malem..
Saatnya tidurrrr...

zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz...