Showing posts with label Create By. Show all posts
Showing posts with label Create By. Show all posts

Thursday, September 6, 2012

Surat untukmu, di Penghujung Bulan Ramadhan

Kali ini dibawah langit malam, di penghujung bulan Ramadhan.

Setidaknya saya mau mencoba jujur, meski hanya untuk diri sendiri. Bukankah bulan puasa sebaiknya jangan berbohong? Dan saya mau mencobanya dengan tidak menipu diri saya sendiri.

Sampai saat ini saya masih disini, terus menerus memunculkan harapan yang tanpa sadar bahwa waktu begitu cepatnya berlalu.

Tanpa sadar sudah menghabiskan waktu yang sudah sangat cukup lama untuk hanya "diam" dan "berharap".
Bukan tidak mungkin, karena sampai sekarang pun, semua kejadian masih tercetak jelas dalam memori saya. Seakan-akan disimpan secara permanen dan memang tidak bisa dihapus meski dengan cara apapun.
Apa ini salah saya?
Apa ini mau saya?
Apa ini keinginan saya, memaksakan kembali semuanya hadir terus menerus, tak ada bosannya?

Karena aya sendiri sudah mencoba untuk menghindar, tapi tetap saja sulit. Sulit karena entah ada saja hal yang muncul mengkaitkan kamu atau apapun itu.

Sekarang, apa yang ada di benak saya?
Apa ini pertanda?
Apa ini cuma angan-angan belaka?
Kalau hanya angan-angan belaka, mengapa hal ini terus menerus hadir dan anehnya saya terkadang menikmatinya.
Bahkan menumbuhkan harapan yang tanpa saya sadari makin lama makin menumpuk.

Apa saya salah? Apa yang yang saya lakukan itu salah? Berlebihan?
Setidaknya saya percaya dan masih yakin bahwa ini kekuasaan Tuhan. Bahkan saya sempat berpikir bahwa memang ini cara Tuhan untuk terus melingkupi saya dengan kamu sampai waktu yang telah ditetapkanNya.

Hanya diam bukan cara yang tepat, bukan? Jodoh pun tidak akan pernah bisa didapatkan juga tanpa adanya usaha. Ya, meskipun jodoh itu biar Tuhan yang mengaturnya.
Dan mungkin, Tuhan telah menetapkan saya dan kamu lewat pertanda-pertanda yang tanpa kita sadari itu adalah takdir dan caraNya?
Terkadang orang mencemooh, tapi bahkan saya sendiri belum pernah menemukannya pada orang lain.
Jadi seketika pula pemikiran saya berubah, biarlah orang menertawai saya.
Karena hal ini, saya yang merasakannya, Tuhan yang memberikannya, bukan mereka.

Saya ingin mencoba mempercayainya, tapi rasanya tetap saja percuma kalau saya saja yang mempercayainya dan tidak berlaku untuk kamu.

Ya, memang tidak ada keterikatan. Dari dulu sampai sekarang.
Tapi ada satu hal,
Karena saya masih menjaga janji itu.
Janji sederhana, tapi buat saya itu lebih dari sekedar sederhana.
Boleh kah saya menagihnya?
Boleh kah saya masih terus melanjutkan impian-impian saya?
Boleh kah saya mendengarnya dan menerima balasan kejujuran saya?
Setidaknya dengan itu, semoga saya bisa bernapas lega.

Di penghujung Ramadhan, saya ingin jujur padamu.
Saya mencintai orang yang telah mengajarkan saya untuk mencintai Allah dan RasulNya.
Dari dulu
sampai sekarang..

***

"Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya,
Dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya),
Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna,
Dan sesungguhnya kepada Tuhanmu lah kesudahnnya (segala sesuatu),
Dan sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis,
Dan sesungguhnya Dialah yang mematikan dan menghidupkan,
Dan sesungguhnya Dialah yang menciptakan pasangan laki-laki dan perempuan,.."


Kamu tahu? Ini salah satu Qur'an Surat yang paling saya sukai..
Dan ini kudedikasikan untukmu..
Saya menunggu balasanmu..

:')

15 Agustus 2012
untuk seseorang yang entah apa kabarnya..

Sunday, July 29, 2012

After A Long Time Has Passed..

Enam tahun bukan waktu yang lama untuk melupakan, bukan?

Semuanya bisa terhapus seiring berjalannya waktu, dan enam tahun itu bisa jadi jangka waktu yang tepat untuk melupakan apapun.
Bahkan semua yang dulu dianggap hal yang menyenangkan dan luar biasa, bisa dibinasakan layaknya kertas yang tintanya sudah memudar, mulai menghapus kalimat-kalimat yang tertulis disana.
Dan saya rasa, kamu juga begitu.

Saya tidak mau menciptakan teori, ini hanya pemikiran saya saja.

Malam ini, rasanya ingin sekali berteriak. Melepaskan semua perasaan yang entah saya sendiri sudah lelah untuk merasakannya. Tapi saya tidak kuasa berteriak seperti adanya, hanya bisa dalam hati saja.

Hanya dalam hati saja.
Ya, God is the best listener. You don't need to shout not cry out load because the hears even the very silent prayer of a sincere heart.

Galau? Haha, setiap manusia pasti pernah merasakan galau. Itu hal yang wajar dan manusiawi menurut saya. Hanya saja saya mengingat satu hal, ""Wahai orang-orang yang beriman ! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (Q.S Al-Baqarah: 153) atau Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya (yang demikian itu) sulit, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'. (Q.S. Al-Baqarah: 45).

Wah, saya juga bukan orang yang "ngerti banget" sama hal begini, tapi saya yakin satu hal terhadap agama saya. Al-Qur'an dan Hadist itu sudah yang terbaik untuk solusi berbagai permasalahan di dunia yang tidak ada henti-hentinya. Dan galau, dalam artian sesungguhnya,"kondisi dimana pikiran orang sedang kacau, kusut" dan itu tandanya butuh "sesuatu" pertolongan kecil sekalipun sederhana, tapi setidaknya bisa "melegakan" hati, bukan?

Dan itu yang saya lakukan, setelah shalat, saya juga bercerita panjang lebar padaNya. Hal yang lumrah bukan, untuk bercerita tentang apa yang kita rasakan, apa yang kita inginkan, apa yang kita rasa itu "berat". Karena Dia sebaik-baik tempat curhat yang kita miliki.

Ya, saya ingin meminta agar perasaan saya dihentikan terhadapnya. Perasaan yang sia-sia, perasaan yang percuma. Perasaan yang sampai kapan pun tak terbalas, perasaan yang mematikan rasa lain disekeliling saya. Perasaan yang memendekkan pikiran saya bahwa hanya dia saja yang pantas untuk saya.

Padahal dia tak anggap saya adalah yang pantas untuk saya. Tidak seperti saya menganggap dia yang terbaik untuk saya.

Rasanya memang semua sia-sia, dan satu-satunya cara adalah..
Saya harus melupakan dia sebagaiman dia juga melupakan saya.

Bisa kah? Melupakan tapi tidak bermaksud memutuskan persaudaraan. Melupakan hanya sebatas atas apa yang saya rasakan dan segala kenangan yang entah tak terhitung pernah jalankan dalam hdup saya. Hanya itu saja.
Rasanya sudah lelah. Saya tahu, saya memang harus bersabar. Bersabar sampai suatu saat nanti, Allah akan berikan "bukti" untuk saya, apakah saya memang harus "melupakan" dengan sebenar-benarnya atau tidak.

Ada kalanya cinta lama hanya tinggal sejarah. Ada kalanya dia datang dan datang lagi, seperti mimpi dan deja vu yang datang berulang. Dan ada kalanya dia seperti harta karun yang tertimbun dan tetap akan dicari hingga kapanpun.

Saya lelah. Rasanya saya ingin memilih pilihan yang pertama.

Hentikan ya Allah. Harus dengan apalagi saya menghilangkannya kalau bukan dengan bantuanMu?
Saya benci dia, bukan begitu perasaan yang sebenarnya?
Salah, saya benci perasaan saya, yang tak pernah hilang hanya untuk orang seperti dia.

Allah, enam tahun seharusnya menjadi waktu dimana saya bisa melupakan segalanya, bukan? Tapi kenyataannya, sampai sekarang, semuanya tidak pernah lepas dan bahkan sulit dilepas dalam memori saya?
Bisakah kau berikan saya "virus" supaya kenangan itu terdeteksi terkena "virus" tersebut dan saya akan lebih mudah untuk menghapusnya?

Saya sudah menyerah, untuk hal ini..

***

Majubomyeo nanudeon yaegideul
uridulman aratdeon yaegideul
jiulsueomnabwa beorilsuneomnabwa
itjimotanabwa
oraenmane dulleobon georideul
gireul jinalttaemyeon johahaetdeon gieogi
jakku tteoollaseo balgireul meomchunda

hancham jinaseo na jigeumyeogi wasseo
geuttaega geuriwoseo moreunche sarado saenggangnadeora
geureon neoraseo jakkunune barphyeoseo
hamkke bonaen sigandeul
chueokdeuldo byeolcheoreom ssodajineunde
neon eotteoni

haengbokhaeman boineun saramdeul
naman honja oeroi nameun geotmangataseo
anin cheokhaebwado nisaenggaginanda

hanchamjinaseo na jigeumyeogi wasseo
geuttaega geuriwoseo moreunche sarado saenggangnadeora
geureon neoraseo jakkunune barphyeoseo
hamkke bonaen sigandeul
chueokdeuldo byeolcheoreom ssodajineunde nunmurina

yeogiseoneol gidarimyeon bolsuisseulkka
geuttaenmalhaejulsuisseulkka ireonnae maeumeul

bogosipeoseo deobogosipeojyeoseo

geureon naraseo nan neobakke mollaseo
neoeobsisaldaboni modeunge huhoero gadeukhadeora
nigaeobseoseo heojeonhange deo manhaseo
oneuldo balgeoreumeun ijariga geuriwo gajimotago bulleobonda

Ost. Rooftop Prince - After A Long Time Has Passed

***

[Indonesian translation:. http://haerajjang.wordpress.com]

Saat bertemu kita berbagi cerita, cerita dimana hanya kita berdua yang tahu
Sepertinya aku tak dapat menghapus, membuang, dan melupakannya
Aku mengedarkan pandangan ke jalan cukup lama
Kenangan yang kusukai saat melewati jalan ini
terus menerus muncul sehingga menghentikan langkah kakiku

Setelah sekian lama hingga saat aku datang kemari saat ini
Aku merindukan masa itu, hingga tanpa sadar aku memikirkan kehidupan saat itu
Karena dirimu yang terus menerus melangkah di mataku
Kenangan saat-saat menghabiskan waktu bersama seperti bintang bertaburan, namun
bagaimana dengan dirimu?

Orang-orang terlihat bahagia
Hanya aku yang sepertinya dibiarkan sendiri, kesepian
Tak ada kepura-puraan, aku memikirkanmu

Setelah sekian lama hingga saat aku datang kemari saat ini
Aku merindukan masa itu, hingga tanpa sadar aku memikirkan kehidupan saat itu
Karena dirimu yang terus menerus melangkah di mataku
Kenangan saat-saat menghabiskan waktu bersama seperti bintang bertaburan, namun
aku menangis

Dapatkah kau melihatku saat aku menantimu di sini?
Dapatkah nantinya aku menyatakan perasaanku?

Aku merindukanmu, bahkan lebih merindukanmu
Karena dirimu, aku hanya tahu tentang dirimu
Kehidupan tanpamu, semua penuh dengan penyesalan
Tanpa dirimu, aku merasakan banyak kehampaan
Hari inipun langkah kakiku merindukan tempat ini, tak dapat beranjak dan memanggilmu

***

Saya terhenyak.
Ya, lagu ini benar seperti apa yang saya rasa..

Friday, January 27, 2012

Masih dengan Rindu yang Sama, Aku Selalu Ingin Mengenalmu...

Masih dengan rindu yang sama, aku selalu ingin mengenalmu. Kali ini bukan karena waktu yang begitu lama tak mempertemukan kita atau jarak yang menyulitkan untuk bersua. Bukan karena janji-janji atau harapan yang mungkin tak pasti. Tapi, aku hanya ingin sekedar mengingatkan pada diriku sendiri bahwa betapa beruntungnya aku diperkenankan mengenal pribadi seperti mu.

Entah niat yang muncul dari mana, aku bisa senantiasa berlaku demikian. Seakan-akan ini bukan suatu kebiasaan lagi, jika ada kata yang lebih tepat selain kata itu. Aku mencoba untuk menyudahi dengan segala cara agar rindu ini menghilang, tapi apa daya, rasanya mengenangmu pun tak akan pernah habis untukku. Lebih dari segala situasi dan kondisi hati yang aku rasakan akibat perbuatanmu, tapi entah mengapa tak pernah sekalipun aku merasa menyesal bisa mengetahui siapa dirimu.

Aku sudah terbiasa dengan terpisahnya jarak dan waktu. Karena buat ku hal itu akan perlahan-lahan memudar bersama kesibukan aktivitas-aktivitasku dan dengan cepatnya aku bisa melupakan segala hal yang bahkan tak pernah terpikirkan untuk dilupakan. Tapi entah mengapa tidak untukmu. Entah karena kau terlampau hebat di pikiranku atau entah aku jatuh hati karena kebaikan-kebaikanmu. Rasanya semua pun tak bisa kupahami dengan akal sehatku.

Yang aku tahu, aku hanya jatuh hati padamu. Dan lagi-lagi, karena apa, aku angkat tangan. Menyerah. Aku tidak memaksakan hati ku sendiri untuk kamu tapi semua berjalan begitu saja dan itu yang dirasa. Aku sendiri bukan siapa-siapa bahkan aku pun sadar, mungkin kau sendiri tidak merasakan bahkan melakukan hal yang sama seperti yang saat ini aku rasa dan lakukan. Seperti menghabiskan waktu dengan perbuatan yang sia-sia, kalau kata orang. Tapi buat ku, tidak ada perbuatan yang sia-sia, yang menjadikannya sia-sia justru pikiran kita sendiri, bukan?

Dan aku tak mau seperti itu.

Masih dengan rindu yang sama, aku selalu ingin mengenalmu. Terkadang menguap bersama hembusan angin, terbawa rintikan hujan, terlukis sapuan pelangi, hingga tercetak dalam bentangan malam. Aku tak pernah meminta kembali janji-janji atau segala macam yang pernah kau ucapkan agar kembali kau bawa kehadapanku, kau berikan, dan kau tepati semua. Aku tak butuh itu.

Aku hanya butuh kau ingat aku.
Sama seperti aku yang selalu mengingatmu.

Mungkin aku seperti orang bodoh. Tapi lagi-lagi itu kata orang, bukan. Semua butuh pengorbanan. Seperti Hukum I Newton, dimana benda saja akan bergerak jika ada gaya yang resultannya tidak nol. Sama seperti hidup, yang dilihat itu proses, besarnya usaha dan doa, dan supaya semua bergerak menuju hasil. Dan usaha ku? Pastinya tidak hanya sekedar mengenangmu saja.

Lagi-lagi, entah seperti apa aku jatuh hati padamu, tapi rasa ini seperti sudah membatu dalam hati dan sulit untuk dipecahkan. Jika ada kata yang tepat dan lebih mahadahysat dari kata “menyayangi”, aku akan menggunakannya untukmu. Mengapa bukan “mencintai”? Karena bagiku, mencintai yang paling dahsyat hanya untuk Tuhan.

Apa semua karena kebaikanmu? Atau karena sosokmu lebih dari sebuah kebaikan? Aku berdoa semoga Allah ciptakan rasa jatuh hati yang sama seperti yang aku rasakan untukmu. Hingga sampai saatnya yang juga ditentukan oleh Nya.

Masih dengan rindu yang sama, aku selalu ingin mengenalmu.

Wednesday, April 20, 2011

Oh, Rindu!

Aku terpekur sejenak menatap wajah Arina tersenyum sumringah. Jarang-jarang aku bisa melihatnya sebahagia ini. “Rasa-rasanya ada yang sedang berbahagia hari ini,” ucapku sok tahu. “Memang. Entah mengapa aku merasa Tuhan medekatkan aku lagi padanya. “ “Siapa?” tanyaku ingin tahu. “Fikri, kau masih ingat bukan?” ucapnya dengan mata yang berseri-seri.
Siapa yang tak mengingatnya? Bahkan dulu, Arina dan Fikri memang dikabarkan dekat ketika menginjak bangku SMP. “Aneh rasanya, sudah lama aku tak pernah berhubungan komunikasi dengannya, dan kau tahu juga bukan? Bahwa akhir-akhir ini justru aku sedang sibuk-sibuknya kuliah dan lain-lain. Tapi Tuhan mengirimkan mimpi tentangnya kembali dan kau harus tahu, kemarin dia mengirimkan message di Facebook ku dan menanyakan nomor HP ku. Bukankah itu sebuah kebetulan yang sangat kebetulan?”
Cukup menarik kejadiannya, setidaknya itu menurutku. Ya, aku dan Arina sudah berteman sejak SD dan aku pun tahu saat ini memang dia hampir tidak pernah berhubungan lagi dengan Desta. Dan entah mengapa Tuhan mengirimkan kesempatan seperti itu.
***
“Ya Tuhan, sepertinya kamu memang berubah,” ujarku saat melihatnya sibuk mengirim pesan singkat di HP nya. Pasti Fikri, tak salah lagi. Sejak cerita kejadiannya yang mengesankan itu, kontan sudah hari-harinya dipenuhi dengan kembalinya Fikri dalam hidupnya. Apakah sekedar mengulang kenangan yang sudah pernah dirasakan ataukah hanya sekedar? Ah, aku tak mau mengambil spekulasi mengenainya. Setidaknya, sahabatku tetap merasakan bahagia bukannya kesedihan.
***
From: You
To : Fikri Putra Anggara
When : November 14, 2010 at 10.27 pm
Message:
Ini salah, maaf ini salahku. Entah mengapa hal ini pun terjadi padaku. Tuhan mungkin punya rencana lain mengenai kejadian seperti ini, tapi rasanya, kau tahu? Aku jadi sering memikirkanmu. Entah mengenai masa-masa yang lalu bahkan sekarang pun rasa kejanggalanku berubah seketika menjadi rindu. Rindu bertemu dirimu yang memang sudah lama tak pernah aku jumpa. Maaf jika hal ini mengganggumu, karena akupun bingung, slide-slide gambaran kenangan bersamamu muncul secara tiba-tiba tanpa kuminta dan terbawa hingga kini. Maaf jika kau tak menginginkannya
***
From : Fikri Putra Anggara
To : You
When : November 15, 2010 at 09.43 am
Tidak apa-apa. Kamu lucu. Banyak-banyak baca Al-Qur’an sama shalat ya. Mudah-mudahan pikiranmu bisa jernih kembali. :)
***
Setidaknya itu jawaban yang diberikan Fikri pada Arina atas kejujuran yang dilontarkan Arina padanya. Rindu memang terkadang aneh. Fikri jelas-jelas tidak mengharapkan lebih lanjut hubungan ini begitu juga dengan sahabatku. Setidaknya saat ini senyum Arina masih dapat kulihat dan…Hei? Kurasa senyum kali ini senyum kebebasan…

Friday, December 17, 2010

ANTARA AKU,TUHAN, DAN DIA

Aku terkenang kembali akan masa lalu yang tak pernah putus dari ingatanku..
Tak pernah ada alasan untuk ku mencoba mengingatnya kembali
namun Tuhan mengembalikan kenangan manis itu dalam hidupku
Aku juga tidak pernah mencoba mengingatnya sekuat tenaga
tetapi Tuhan mengantarkan kenangan itu dalam hari-hariku..
Semakin lama..semakin dalam..
Sampai-sampai diriku pun tak akan pernah mampu menangkap maksudNya..
Yang ku tahu, mungkin Tuhan ingin aku senantiasaa menyimpan kenangan ini
rapat, terkunci, agar tak kan lenyap termakan waktu..
Siapa yang tahu? Itu hanya pendapatku..
Satu persatu episode terekam kembali, memunculkan kegundahan dalam hati..
Jelas...
Aku tanpa sadar menangis..
Aku juga tanpa sadar tersenyum..
Hanya aku..
Hanya aku yang merasakan..
Tapi ku harap seseorang yang disana juga turut merasakan..
Aku tak mencoba-coba untuk mengingatnya kembali
tapi Tuhan memutarkan kembali potongan-potongan cerita tiap harinya
hingga akhirnya tercetak utuh dalam pikiran ku..
Aku bahkan merasakannya!
Bagaimana rasanya saat-saat itu..
Adakah maksud Tuhan yang lainnya untuk ku?
Atau ini hanya sebuah peringatan dari Tuhan
bahwa inilah saat nya kenangan ini akan hilang selama-lamanya dari hidupku
sehingga Dia tunjukkan kembali, memberikan nya untukku..
untuk yang terakhir kalinya?
Tidak..
Kenangan itu sampai kapanpun tak akan pernah aku lupakan
Sekalipun aku meraih hidup dengan lembaran baru
Namun sekalipun aku takkan pernah bermaksud merobek lembaran itu
meremas-remasnya hingga hancur..
bahkan membuangnya hingga hilang dari hidupku..
Tak akan pernah..
Biar ini menjadi kisah tersendiri dalam perjalanan hidupku
Untuk hidupku, dari tuhan, dan tentang dia...

-14122010-

Satu?

Ceritakanlah..
Tentang satu kenangan indah dimana cita, harapan, dan impian
kita ciptakan bersama..
Tentang janji, keluh kesah, tawa yang tak pernah pudar dari kita..
dan cerita tentang kita memang akan sulit terhapus masa..

-14122010-

Friday, February 12, 2010

Nyanyian Pelangi

Rintik berbisik berbaur senyum
Tetes demi tetes menghapus luka sejati
Dalam hatinya ia mengumbar kerelaan
Hanya satu impian yang nyaris terlupakan
Dunia takkan kejam
Yang sengsara tak selamanya menderita
Yang biasa tak selamanya terluka
Hingga suatu saat akan kembali pada satu sisi
Sedih terabaikan senyum kan terurai
Lewat celah-celah kehampaan pada hatimu
Biarkan aku penuhi dengan milikku
Meski yang ku punya tak selamanya yang kau pinta
Tapi satu rasa yang membuat kita tak beda
Asa k tak ingin kau penuhi
Hatimu tak ingin biarkan kesempatan meracuni
Dan tak lama lagikau pun tinggali
Tapi yakinlah aku masih berdiri
Memanggil namamu dalam hati dan terus berdoa
Mungkin suatu saat waktu biarkan engaku ikhlas
Untuk jadikan aku lebih dari yang kau lihat awalnya
Ya...kini sedih terabaikan dan senyum terurai
Kini kau ada dihadapannku mencoba tersenyum
Rintik perlahan menghilang terganti lukisan Tuhan
Dan nyanyian hati mulai dimainkan...



*281206*

Cinta Butuh Pengorbanan

Sebait nada terucap dari bibir mungilnya
Seulas senyum getirnya seraya hendak berkata,
"Aku masih ada"
Jari jemarinya memegang erat janji yang tak mungkin pasti
Dengan tegarnya jiwa dan sedikit tanda pinta
Lewat kaki kecilnya yang tak bisa diharapkan, ia masih kuat
Kedua matanya penuh harap tanpa belas kasihan
Dalam hatinya ia teguhkan keinginan dan harapan
Meski dunia berputar tak tentu arah
Langit mendung tak pernah tertawa
Hingga saat bintang-bintang di langit tak mau lagi menyapanya
Keinginan akan sebentuk hati untuk yang dicinta
Beribu peluh terbuang sia-sia tapi itu tak mengapa
Luka dalam hati bukan sebuah misteri bagi diri
Karena dia, berdiri di sini hanya demi cinta
Jalan masih panjang untuk terselesaikan
Nyawa belum hilang dan keberanian belum surut untuknya
Tawa masih ada dan harapan masih menunggu
Karena masih ada an akan selalu ada
Lewat sebuah nada merdu namun terhalang oleh sendu
Dengan hati yang dibawakannya melalui perjuangan ikhlasnya
Senyum getirnya tak ingin pudar dengan cepatnya
Pejamkan mata dan selintas kata keluar dari bibirnya,
"Cinta memang butuh pengorbanan..."




020706

*udah lama bgt yak?tapi pengen gue masukin aja di blog gue.."
:)

Aku Cinta?

Aku duduk termenung dalam diam yang tak berujung. Sedikit demi sedikit terasa semilir angin sejuk merasuk tiap sudut-sudut hatiku. Kulirik jam tangan dan kutatap lekat-lekat angka demi angka yang tertera disana. Sejenak aku berpikir, mungkinkah segala kebenaran dan kenyataan akan terbuka? Bulan mulai memunculkan dirinya bergabung dengan langit malam yang kelam.

Sayup-sayup suara binatang malam pun terdengar merintih, seakan mengetahui keadaan hatiku yang tak kunjung reda dalam sendu. Pikiranku kini menjerit, "Sampai kapan kau mau menyakiti dirimu sendiri? Tak sadarkah kau bahwa sedikit demi sedikit hidupmu telah kau hancurkan hanya karna orang seperti dia!"

Aku hanya tersenyum lirih dan tetap diam sembari terus melihat jarum jam yang terus berputar dan seketika membuatku bosan. Kularikan pandanganku ke arah bintang-bintang yang mulai muncul di latar belakang langit gelap. Sampai kapan aku harus menunggu? batinku. Di luar sana tak ada seorang pun yang menampakkan dirinya, hanya suara-suara mengalun merdu yang terukir lewat untaian kalimat-kalimat Allah yang begitu indah mempesona. Mungkin sebentar lagi, cobaku membesarkan diri.

Dudukku mulai gelisah tak menentu. Pikiranku menjerit kembali, "Cinta tak semestinya begini. Kau biarkan hatimu terus terbuka untuknya meskipun kau tahu sedikitpun hatinya tak menoleh pada hatimu." Toh aku masih mampu bertahan untuk ini.

Tahu apa dia? Toh selama ini hatiku pun tak menjerit seperti yang dikatakan oleh mereka. Toh hatiku pun menganggap hal ini biasa-biasa saja. Seakan tahu aku sedang membantin, daun-daun bergumam lembut, bergerak terhempas angin semilir. "Kami pun tahu, tapi kami sayang padamu.." Singkat, tapi aku tak tahu maksudnya apa.

Sampai saat ini pun dia tak kunjung datang. Sedikit demi sedikit hati ku mulai goyah. Apa yang mereka katakan itu benar adanya? Tapi, tidak. Hatiku percaya bahwa setiap cinta itu memang butuh pengorbanan. Hatiku memberanikan diri untuk berkata, "Aku percaya dia akan datang dan akan membawamu pada kebahagiaan. Semua yang tersiar dari kabar-kabar tak mengenakkan hatimu, dusta belaka. Dia percaya kamu dan kamu percaya dia."

Bintang menyela, "Kau pikir dengan hanya percaya semua akan selesai adanya? Ketahuilah, hati seorang manusia pandai menipu.. Sepertimu.."

Hatiku seakan ditampar, Apa aku pernah menipu perasaanku sendiri? Aku menggeleng kepalaku. Tidak. Sedikitpun tak pernah terlintas untuk menipu perasaanku sendiri. Hati ku masih tetap tenang, "Kau tak tahu apa-apa tentangku.." Dan tiba-tiba dia muncul. Seseorang yang amat ku sayang, tak dusta sedikitpun. Hatiku tersenyum dan berbisik, "Kau percaya? Hati tak pernah bohong..."

Semua hilang sudah. Ya. Hati memang tak pernah mengelabui diriku. Aku mencintainya.

Friday, February 5, 2010

Untitled

Dalam kerinduan
yang mengalir dalam samudera cintaNya
Lewat nada-nada terindah
berbalut kasih yang mulia
Kala sayup-sayup lembut doa
terurai harap lepaskan rindu
Dia 'kan selalu ada
Ketika hati terkurung parasut kusut kehampaan
Terpaan godaan membalut kesombongan
Rindukanlah Dia
Karena cinta yang Dia berikan
takkan pernah habis
termakan masa
Menembus lurus melewati batas demi batas lazuardi
Doa akan cinta terlantun tak
akan pernah berhenti
Hingga air mata penuh keikhlasan
akan cintaMu
Mengiringi tiap untaian ingatku
kepadaMu
Fabiayyi ala irrabi kuma tukadzibban
Maka nikmatNya yang manakah yang pantas
kau dustakan?
Demi masa yang mengantarkan kami
dalam kehidupan dan kematian
Lewat takdir dan kuasaNya
Demi Engkau yang senantiasa
ada dan akan selalu hadir
dalam rangkaian cinta hambaNya
Demi cinta yang lurus dan agung
Putih suci seikhlas cinta malaikat
kepadaMu..
Semoga aku juga begitu..

Ku berkaca pada samudera cintaNya
Adakah cintaku lekat di hatiNya?